Mengapa Numerasi Tak Bisa Dibebankan ke Guru Matematika Saja?

PENDIDIKAN92 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Kemampuan numerasi tidak lagi dipandang sebatas kemampuan menghitung angka. Di tengah perubahan dunia pendidikan, numerasi menjadi salah satu keterampilan dasar yang membantu peserta didik membaca data, memahami informasi, berpikir logis, hingga mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Guru SMP Kota Balikpapan yang digelar PT Interport Mandiri Utama bersama Indika Foundation. Kegiatan ini mendorong guru agar mampu menghadirkan pembelajaran numerasi yang tidak hanya berhenti pada pelajaran matematika, tetapi diterapkan dalam berbagai bidang studi.

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan Kota Balikpapan, Supriyani, mengatakan masih banyak masyarakat yang memahami numerasi secara sempit sebagai kemampuan berhitung.

Padahal, menurutnya, numerasi merupakan kemampuan menggunakan konsep angka dan data untuk memahami serta menyelesaikan persoalan nyata.

“Numerasi bukan hanya tugas guru matematika. Semua mata pelajaran pasti di dalamnya ada numerasi,” ujar Supriyani saat ditemui dalam kegiatan pelatihan di Balikpapan.

Ia mencontohkan, pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), siswa dapat dilatih memahami data ekonomi, grafik, maupun fenomena sosial melalui angka. Sementara dalam pelajaran olahraga, numerasi dapat diterapkan melalui pemahaman jarak, waktu, hingga pengukuran.

“Numerasi itu bukan hanya sekadar menghitung, tetapi bagaimana anak-anak memahami dan menerapkan konsep angka dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Menurut Supriyani, penguatan kemampuan numerasi menjadi salah satu perhatian dalam peningkatan kualitas pendidikan di Balikpapan. Hal tersebut juga tercermin dalam Rapor Pendidikan yang menjadi salah satu indikator evaluasi capaian pembelajaran peserta didik.

Ia menilai tantangan pendidikan saat ini bukan hanya mengejar nilai akademik, tetapi memastikan siswa mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk menghadapi persoalan di luar ruang kelas.

“Kadang anak-anak mendapatkan nilai matematika tinggi, tetapi ketika dihadapkan dengan persoalan sederhana seperti menghitung diskon atau memahami data, masih mengalami kesulitan. Artinya, pemahaman konsepnya yang perlu diperkuat,” jelasnya.

Melalui pelatihan tersebut, ia berharap guru dapat mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual, sehingga siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi memahami bagaimana ilmu tersebut digunakan.

“Pembelajaran harus bisa digunakan anak-anak untuk menjelaskan, menerapkan, dan menganalisis. Itu yang menjadi tujuan utama,” ujarnya.

Salah satu peserta pelatihan, Dimas, guru SMP Negeri 21 Balikpapan, mengatakan kegiatan tersebut membuka pemahaman baru bahwa numerasi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru matematika.

Menurut dia, dalam pembelajaran IPS, kemampuan membaca dan mengolah data menjadi bagian penting untuk membantu siswa memahami berbagai fenomena sosial.

“Banyak yang menganggap numerasi hanya untuk matematika. Padahal di IPS juga sangat membutuhkan numerasi, misalnya ketika membahas skala, ekonomi, inflasi, dan berbagai data,” ujar Dimas.

Ia mengatakan tantangan yang sering ditemui di kelas bukan hanya kemampuan siswa dalam melakukan perhitungan, tetapi memahami makna dari angka yang digunakan.

“Anak-anak biasanya tahu cara menghitung, tetapi belum memahami konsep numerasinya. Padahal ketika konsepnya dipahami, mereka akan lebih mudah menyelesaikan persoalan,” katanya.

Dimas berharap pelatihan tersebut dapat mendorong guru dari berbagai mata pelajaran memiliki perspektif yang sama bahwa numerasi merupakan kemampuan bersama yang perlu dikembangkan di sekolah.

“Harapannya guru-guru memiliki pandangan yang sama bahwa numerasi bukan hanya milik satu mata pelajaran, tetapi bisa diterapkan di semua bidang,” ujarnya.

Pelatihan peningkatan kapasitas guru SMP Kota Balikpapan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi pendidik agar mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.