Pembeli Beralih ke Online, Pedagang Pasar Tradisional Samarinda Kian Tertekan

Samarinda22 Dilihat

Metroikn, Samarinda – Aktivitas perdagangan di sejumlah pasar tradisional di Kota Samarinda tengah menghadapi tantangan. Di tengah pesatnya perkembangan belanja online dan melemahnya daya beli masyarakat, banyak pedagang mengaku semakin sulit mendapatkan pembeli.

Suasana yang biasanya ramai kini terlihat lebih lengang di beberapa pasar utama. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para pedagang yang mengandalkan kunjungan konsumen setiap hari.

Seorang pedagang tas di Pasar Pagi Samarinda mengaku penjualannya turun cukup signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, jumlah pembeli yang datang ke pasar terus berkurang sehingga pendapatan menjadi tidak menentu.

“Sekarang sepi sekali, pembeli jarang datang. Kadang dalam sebulan hasilnya tidak menentu,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan pedagang pakaian yang berjualan di kawasan yang sama. Ia mengaku penurunan transaksi membuat perputaran modal semakin berat, bahkan untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari.

“Kadang seharian tidak ada penjualan berarti. Untuk biaya harian dan iuran juga jadi berat kalau kondisi seperti ini terus,” katanya.

Fenomena tersebut ternyata tidak hanya terjadi di Pasar Pagi. Pemerintah Kota Samarinda mencatat kondisi serupa juga dirasakan pedagang di sejumlah pasar tradisional lainnya.

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan keluhan pedagang datang dari berbagai pasar, mulai dari Pasar Segiri, Pasar Sungai Dama hingga Pasar Merdeka.

“Ini sedang kita evaluasi. Di Pasar Segiri juga pedagang mengeluh, di Pasar Sungai Dama juga sama, termasuk Pasar Merdeka. Artinya memang ada penurunan daya beli,” ujarnya.

Selain faktor ekonomi, Pemkot juga mencermati sejumlah faktor lain yang berpotensi memengaruhi minat masyarakat untuk datang ke pasar tradisional. Salah satunya adalah penerapan sistem parkir progresif di beberapa kawasan pasar yang dinilai sebagian warga menambah biaya kunjungan.

Namun di luar itu, perubahan pola konsumsi masyarakat disebut menjadi tantangan terbesar. Kemudahan berbelanja melalui platform digital membuat sebagian konsumen lebih memilih membeli kebutuhan tanpa harus datang langsung ke pasar.

Menurut Marnabas, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pelaku usaha perlu melakukan penyesuaian agar tetap mampu bersaing di tengah perubahan perilaku konsumen.

“Dalam ekonomi itu kita tidak cukup hanya mengeluh, tapi harus beradaptasi. Pemerintah juga mendorong pedagang untuk lebih kreatif, baik dari sisi produk maupun cara menarik pembeli,” katanya.

Meski menghadapi tekanan, pemerintah berharap pasar tradisional tetap memiliki daya tarik tersendiri melalui pelayanan yang lebih baik, kualitas produk yang terjaga, serta inovasi pemasaran yang mengikuti perkembangan zaman.