Kredit Bank Balikpapan Tumbuh 7%, Dana Masyarakat Justru Susut Rp4,94 Triliun

EKOBIS25 Dilihat

BALIKPAPAN – Perbankan di Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser menghadapi kondisi yang kontras. Penyaluran kredit masih tumbuh, tetapi dana masyarakat yang dihimpun justru menyusut hampir Rp5 triliun dalam setahun.

Berdasarkan catatan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, total kredit perbankan pada triwulan III 2026 mencapai Rp42,53 triliun atau tumbuh 7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Namun, laju pertumbuhan ini melambat tajam dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai 17,66 persen.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) justru turun 10,42 persen menjadi Rp44,58 triliun. Padahal, pada triwulan sebelumnya, penghimpunan dana masyarakat masih tumbuh 4,15 persen dengan nilai Rp49,52 triliun.

Artinya, dalam satu tahun terakhir, dana yang dihimpun perbankan mengalami penurunan sekitar Rp4,94 triliun. Kondisi ini turut mendorong rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) naik menjadi 95,39 persen, dari 83,82 persen pada triwulan II 2026.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menyebut pertumbuhan kredit masih menunjukkan perkembangan positif. Namun, penguatan penghimpunan dana masyarakat tetap diperlukan untuk menjaga kemampuan perbankan membiayai perekonomian daerah.

“Penyaluran kredit perbankan masih tumbuh positif, tetapi penurunan dana pihak ketiga perlu menjadi perhatian. Pertumbuhan kredit harus didukung sumber pendanaan yang kuat agar fungsi intermediasi perbankan tetap terjaga dan mampu menopang aktivitas ekonomi daerah,” ujar Robi.

Data tersebut mencakup wilayah kerja BI Balikpapan yang meliputi Kota Balikpapan, Kabupaten PPU, dan Kabupaten Paser.

Dari sisi penggunaan, kredit investasi masih mendominasi dengan pangsa 39,88 persen atau tumbuh 7,86 persen secara tahunan. Pembiayaan ini antara lain berkaitan dengan proyek konstruksi dan hilirisasi industri.

Kredit konsumsi mengambil pangsa 35,60 persen dengan pertumbuhan 6,43 persen. Sementara kredit modal kerja tumbuh 6,46 persen. Dengan demikian, pembiayaan untuk aktivitas usaha melalui investasi dan modal kerja mencapai 64,40 persen dari total kredit.

Berdasarkan lapangan usaha, sektor konstruksi menjadi penerima kredit terbesar dengan pangsa 18,40 persen, disusul perdagangan 14,67 persen dan pertanian 11,12 persen.

Namun, kredit konstruksi justru mengalami kontraksi 2,17 persen. BI mengaitkan kondisi tersebut dengan aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang masih terbatas. Aktivitas konstruksi diprakirakan meningkat pada triwulan IV 2026.

Sebaliknya, kredit perdagangan tumbuh 12,62 persen dan pertanian meningkat 4,67 persen. Perkembangan ini antara lain berkaitan dengan kebutuhan persediaan barang menjelang Natal dan Tahun Baru serta mulai menguatnya aktivitas Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

Di tengah perlambatan kredit secara keseluruhan, pembiayaan UMKM masih mencatat pertumbuhan tipis. Nilainya mencapai Rp12,88 triliun atau naik 0,34 persen secara tahunan, membaik dibandingkan triwulan II 2026 yang mengalami kontraksi 0,23 persen.

Kualitas kredit juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) secara keseluruhan turun dari 2,57 persen menjadi 2,34 persen. Sementara NPL UMKM membaik dari 4,2 persen menjadi 3,6 persen.

BI Balikpapan mendorong penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah dan perbankan untuk menjaga penyaluran kredit tetap optimal, inklusif, dan berkualitas. Penguatan penghimpunan dana masyarakat juga diperlukan agar pembiayaan sektor produktif dapat terus berjalan dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Balikpapan, PPU, serta Paser.