Dibawa ke Malaysia, Kopi UMKM Balikpapan Dilirik Ratusan Buyer Global

EKOBIS37 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Produk UMKM asal Kalimantan Timur mulai mendapat perhatian pasar internasional. Kopi produksi PT Deli Koffie Indonesia (Delcoff), UMKM mitra Bank Indonesia (BI) Balikpapan, misalnya, didatangi sekitar 427 trade buyers saat mengikuti Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) 2026 di Kuala Lumpur.

Bukan sekadar datang dan menawarkan produk, sejumlah buyer bahkan mulai membicarakan peluang bisnis dengan Delcoff. Sedikitnya tujuh buyer disebut menunjukkan minat serius dengan menggali informasi mengenai harga, kapasitas produksi hingga mekanisme pengiriman.

Hasilnya, tiga Letter of Intent (LoI) berhasil dikantongi Delcoff dari buyer Malaysia dan Arab Saudi. Total nilai potensial dalam LoI tersebut mencapai US$23.000 atau sekitar Rp402 juta.

Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi dalam Bincang Media bersama wartawan di Kantor Perwakilan BI Balikpapan, Selasa (29/9/2026).

“Selama empat hari pelaksanaan event trade days MIHAS 2026, booth Delcoff telah dikunjungi sekitar 427 trade buyers dari berbagai negara,” kata Robi.

Buyer yang datang berasal dari sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Singapura, Afrika Selatan, Arab Saudi, Jepang, Korea Selatan, Filipina, Bangladesh dan Thailand.

Menurut Robi, minat buyer tidak berhenti pada ketertarikan terhadap rasa kopi. Mereka juga mulai masuk ke pembicaraan yang lebih teknis, seperti harga, kemampuan produksi dan pilihan pengiriman.

Delcoff sendiri membawa produk kopi dengan karakter pengolahan yang mengadaptasi metode Kopi Hainan. Dalam proses roasting, kopi tersebut tidak menggunakan gula dan butter sehingga menghasilkan karakter aroma dan cita rasa yang menjadi salah satu daya tarik produk.

Konsep booth yang mengangkat nuansa tradisional Kopi Hainan juga mendapat respons positif dari pengunjung.

Selain Delcoff, UMKM mitra BI Balikpapan lainnya, Kampoeng Timoer, turut membawa produk khas Kaltim ke MIHAS 2026. Bedanya, produk peyek kepiting Kampoeng Timoer masuk melalui booth agregator Pasti Collective.

Dalam dua hari pelaksanaan showcasing, tujuh trade buyers menunjukkan minat serius terhadap peyek kepiting tersebut.

Produk ini menarik perhatian karena menawarkan camilan seafood yang relatif belum umum ditemukan di pasar Malaysia. Buyer juga memberikan respons positif terhadap teksturnya yang dinilai soft.

Peyek kepiting Kampoeng Timoer juga tidak menggunakan bahan pengawet maupun bahan tambahan pangan seperti penyedap rasa dan pewarna sintetis. Hal itu menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian buyer di tengah meningkatnya permintaan terhadap produk makanan ringan dengan komposisi yang lebih sederhana.

Bukan Sekadar Bawa Produk ke Pameran

Keikutsertaan Delcoff dan Kampoeng Timoer di MIHAS 2026 menjadi bagian dari upaya BI Balikpapan membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM binaannya.

Namun, pengalaman di pameran internasional menunjukkan bahwa masuk ke pasar ekspor tidak berhenti pada kemampuan menarik perhatian buyer.

Buyer juga meminta informasi yang lebih detail, mulai dari harga, kapasitas produksi, kemasan, konsistensi pasokan, minimum order quantity hingga mekanisme pengiriman.

Bahkan, aspek lingkungan dan keberlanjutan mulai ikut diperhatikan dalam pembicaraan bisnis.

Artinya, UMKM yang ingin masuk ke pasar global harus siap bukan hanya dari sisi produk, tetapi juga dari sisi produksi dan bisnis. Informasi mengenai bahan baku, proses produksi, kemasan hingga praktik keberlanjutan menjadi bagian yang perlu disiapkan ketika berhadapan dengan buyer internasional.

MIHAS 2026 sendiri berlangsung pada 23 sampai 26 September di Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC), Kuala Lumpur. Ajang tersebut merupakan penyelenggaraan ke-22 dan menjadi salah satu forum perdagangan halal business to business (B2B) yang mempertemukan pelaku usaha dengan buyer internasional.

Secara nasional, terdapat 23 UMKM mitra BI yang mengikuti showcasing MIHAS 2026. Sebanyak tujuh UMKM tampil melalui booth mandiri, sementara 16 lainnya mengikuti pameran melalui booth agregator Pasti Collective.

Model agregator menjadi salah satu pilihan bagi UMKM yang belum siap mengikuti pameran internasional dengan booth sendiri. Produk tetap bisa diperkenalkan kepada buyer tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan pameran secara mandiri.

Bagi BI Balikpapan, pengalaman Delcoff dan Kampoeng Timoer di MIHAS juga memberi gambaran mengenai kesiapan UMKM Kaltim menghadapi pasar global.

Sebab, respons buyer di pameran tersebut sekaligus menjadi semacam uji pasar. UMKM bisa melihat langsung produk seperti apa yang menarik perhatian, pertanyaan apa yang paling sering muncul, serta persyaratan apa yang harus dipenuhi sebelum transaksi ekspor benar-benar terjadi.

Tiga LoI yang diperoleh Delcoff menjadi salah satu hasil konkret dari proses tersebut. Namun, peluang bisnis itu masih membutuhkan tindak lanjut sebelum berubah menjadi transaksi.

Komunikasi dengan sejumlah buyer masih berlangsung untuk membahas harga, spesifikasi produk, kapasitas produksi dan mekanisme pengiriman. Dari proses itulah peluang yang muncul di MIHAS 2026 akan ditentukan apakah berlanjut menjadi kerja sama dagang.