Inflasi Balikpapan dan PPU Naik, BI Waspadai Dampak El Nino hingga Karhutla

EKOBIS21 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Harga pangan kembali menjadi tekanan terhadap inflasi di Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU). Pada September 2026, Balikpapan mencatat inflasi 0,08 persen secara bulanan, sementara PPU mencapai 0,56 persen.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan mencapai 3,93 persen dan PPU 4,18 persen. Angka tersebut berada di atas inflasi nasional September 2026 yang tercatat 3,28 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan tekanan harga terutama datang dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Penurunan pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.

“Risiko inflasi harus diwaspadai, terutama dari sisi pasokan pangan. Kondisi cuaca dan meningkatnya risiko El Niño dapat memengaruhi produksi di daerah sentra, sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan,” ujar Robi Ariadi.

Di Balikpapan, kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil inflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan.

Lima komoditas yang paling besar mendorong inflasi yakni cabai rawit, kangkung, tomat, tas sekolah dan jagung manis.

Harga cabai rawit, tomat dan jagung manis meningkat seiring menurunnya pasokan dari daerah sentra produksi, terutama Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Kondisi cuaca kemarau disebut memengaruhi produksi di daerah tersebut di tengah permintaan yang masih kuat.

Sementara harga kangkung naik akibat berkurangnya pasokan petani lokal di Balikpapan dan sekitarnya. Sedangkan kenaikan harga tas sekolah berkaitan dengan meningkatnya biaya produksi dan dampak lanjutan permintaan pada tahun ajaran baru.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi Balikpapan. Ikan layang, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, sawi hijau dan udang basah menjadi penyumbang deflasi terdalam.

Harga ikan layang turun seiring meningkatnya hasil tangkapan nelayan di perairan PPU dan sekitarnya. Harga tiket angkutan udara juga turun setelah harga avtur di Bandara Sepinggan mengalami penurunan pada 1 Agustus 2026.

Sementara harga bahan bakar rumah tangga turun di tengah meningkatnya frekuensi operasi pasar hingga tingkat kelurahan, kecukupan stok dan distribusi yang lebih lancar.

Inflasi PPU Lebih Tinggi

Tekanan harga di PPU lebih tinggi dibandingkan Balikpapan. Inflasi bulanan PPU pada September mencapai 0,56 persen, dengan kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil 0,48 persen.

Komoditas yang paling besar mendorong inflasi PPU yakni cabai rawit, tomat, jagung manis, kacang panjang dan jeruk.

Cabai rawit, tomat dan jagung manis kembali terdampak berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi. Sementara kacang panjang mengalami kenaikan harga akibat pasokan petani lokal PPU dan sekitarnya menurun.

Harga jeruk juga naik akibat terbatasnya pasokan, berakhirnya masa panen raya serta meningkatnya biaya logistik.

Sebaliknya, harga ikan tongkol, ikan layang, udang basah, ikan kembung dan telur ayam ras turun. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya pasokan hasil tangkapan nelayan dan produksi dari daerah sentra.

Secara kumulatif Januari hingga September 2026, inflasi Balikpapan mencapai 2,55 persen. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Sementara inflasi tahun kalender PPU sudah mencapai 4,11 persen, atau berada di atas batas atas sasaran inflasi nasional.

Robi mengatakan kondisi tersebut membuat penguatan pasokan pangan perlu menjadi perhatian, terutama karena Balikpapan dan PPU masih bergantung pada pasokan dari luar Kalimantan Timur.

“Ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar wilayah Kalimantan Timur menjadi salah satu tantangan yang harus kita antisipasi. Karena itu, penguatan pasokan lokal, kelancaran distribusi dan kerja sama dengan daerah sentra produksi menjadi penting untuk menjaga stabilitas harga,” katanya.

104 Kali Gerakan Pangan Murah

Untuk meredam tekanan harga, TPID Balikpapan dan PPU terus menjalankan sejumlah intervensi, termasuk Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah dan Operasi Pasar.

Sepanjang Januari hingga September 2026, TPID Balikpapan telah menggelar 104 kali GPM. Sebanyak 10 kegiatan di antaranya dilaksanakan selama September.

Sementara TPID PPU telah menggelar 32 kali GPM, Pasar Murah dan Operasi Pasar sepanjang 2026, termasuk lima kegiatan pada September.

Bank Indonesia juga mendorong kerja sama antardaerah dengan wilayah sentra produksi untuk menjaga kesinambungan pasokan pangan.

Menurut Robi, risiko inflasi ke depan tidak hanya berasal dari kenaikan harga komoditas pangan. El Niño, kekeringan dan karhutla berpotensi mengganggu produksi dan distribusi pangan.

“Risiko ke depan masih cukup besar, terutama dari El Niño, kekeringan dan karhutla yang dapat mengganggu produksi serta pasokan pangan. Mitigasi harus dilakukan sejak awal melalui pengamanan sumber air, penguatan produksi lokal dan memastikan distribusi tetap berjalan,” ujar Robi.

BI Balikpapan juga mencatat kebutuhan pangan berpotensi meningkat seiring perluasan operasional SPPG pada semester II 2026. Kondisi tersebut dinilai perlu diimbangi dengan penguatan stok dan pasokan.

Selain pangan, distribusi energi juga menjadi perhatian. Pengawasan penyaluran BBM bersubsidi jenis Biosolar dan Pertalite terus dilakukan untuk menjaga kelancaran pasokan dan distribusi logistik.

Upaya pengendalian inflasi Balikpapan sebelumnya mendapat penghargaan TPID Award 2026. Balikpapan meraih Juara II wilayah Kalimantan untuk kategori TPID Kabupaten/Kota Berkinerja Terbaik dengan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi.

Ke depan, BI Balikpapan bersama pemerintah daerah melalui TPID Balikpapan, PPU dan Paser akan melanjutkan program stabilisasi harga, pemantauan pasokan dan penguatan kerja sama antardaerah untuk menjaga inflasi tetap terkendali.