Sepiring MBG di Depan Ruang Kelas Ambruk, Potret Tantangan Pendidikan di Grobogan

NASIONAL71 Dilihat

Metroikn, Grobogan – Sepiring makanan bergizi tersaji untuk siswa sekolah dasar di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Namun di balik program pemenuhan gizi anak itu, terdapat persoalan lain yang masih menunggu penyelesaian: ruang belajar yang tidak lagi aman digunakan.

Di SD Negeri Tanggirejo, Kecamatan Tegowanu, sejumlah siswa menikmati menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan latar bangunan sekolah yang mengalami kerusakan berat. Empat ruang kelas tidak lagi digunakan setelah bagian bangunan mengalami kerusakan hingga atap roboh.

Kondisi tersebut menjadi gambaran lain dari tantangan pendidikan di tingkat dasar. Upaya meningkatkan kualitas anak melalui pemenuhan nutrisi berjalan, sementara kebutuhan mendasar berupa ruang belajar yang aman masih menjadi pekerjaan rumah.

Dilansir Kompas.id, siswa SD Negeri Tanggirejo terlihat menyantap menu MBG di depan ruang kelas yang atapnya telah roboh. Keterbatasan fasilitas membuat pihak sekolah harus mengatur ulang kegiatan belajar agar tetap berjalan tanpa membahayakan siswa maupun guru.

Kepala SD Negeri Tanggirejo, Jiwariyah, mengatakan pihaknya terpaksa mengosongkan sejumlah ruang kelas karena kondisi bangunan sudah tidak memungkinkan digunakan.

“Untuk anak-anak kita bebaskan mau makan MBG di mana, di ruang kelas atau di halaman. Tapi mereka nyaman di halaman. Semua kelas saya pindahkan pada tahun ajaran baru ini karena kondisi ruangan sudah sangat membahayakan guru dan siswa,” ujar Jiwariyah, dikutip dari iNews Boyolali.

Menurutnya, kerusakan bangunan mulai terlihat sejak awal 2026. Salah satu ruang kelas mengalami kerusakan berat hingga bagian atap roboh pada April lalu.

“Bangunan rusak sejak awal Januari 2026 lalu, menimpa ruang kelas 5. Dan April kemarin kembali rusak ketika atap ruang kelas 6 ambrol. Mungkin karena bangunan sudah lapuk,” katanya.

Belajar Bergantian hingga Mushala Jadi Ruang Kelas

Kerusakan empat ruang kelas membuat aktivitas pembelajaran harus disiasati. Sejumlah siswa tidak lagi menempati ruang belajar seperti sekolah pada umumnya.

Pihak sekolah menerapkan sistem bergantian antar kelas. Bahkan, mushala sekolah turut dimanfaatkan sebagai ruang belajar sementara.

“Sekarang untuk kelas 1, 2, dan 3 bergantian dan kita sekat satu ruang kelas untuk dua kelas. Untuk kelas 6 kita kasih satu ruangan untuk pelaksanaan ujian,” jelas Jiwariyah.

Situasi tersebut juga berdampak saat program MBG berlangsung. Kegiatan makan yang seharusnya menjadi momen menyenangkan bagi siswa harus dilakukan di ruang terbuka karena keterbatasan tempat.

Berdasarkan laporan iNews Boyolali, kondisi halaman sekolah sempat kurang nyaman ketika angin kencang membuat debu beterbangan saat siswa sedang menyantap makanan.

Tantangan Pendidikan Tak Hanya Soal Gizi

Program MBG menjadi salah satu upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan kebutuhan gizi anak sekolah.

Namun, kondisi SD Negeri Tanggirejo menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan dukungan yang berjalan bersamaan, mulai dari kesehatan anak hingga fasilitas belajar yang layak.

Ruang kelas bukan hanya tempat siswa menerima pelajaran, tetapi juga bagian dari lingkungan yang menentukan rasa aman dan nyaman selama proses belajar.

Pihak sekolah berharap perbaikan bangunan dapat segera dilakukan agar kegiatan belajar tidak terus berlangsung dengan berbagai keterbatasan.

Sebab bagi siswa, pendidikan tidak hanya membutuhkan makanan bergizi untuk tumbuh, tetapi juga ruang yang aman untuk belajar dan mengejar masa depan.