metroikn, BALIKPAPAN — Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Kesehatan Kota (DKK) tengah melaksanakan proses verifikasi data stunting guna memastikan keakuratan angka kasus dan memperkuat kebijakan percepatan penurunan stunting. Berdasarkan hasil survei nasional, angka stunting di Balikpapan tercatat sebesar 24,8 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, menjelaskan bahwa proses verifikasi dilakukan agar pemerintah memiliki gambaran nyata kondisi gizi anak di seluruh wilayah kota.
“DKK kini sedang aktif melakukan verifikasi. Dari angka 24,8 persen itu, kami ingin memastikan apakah benar hampir seperempat bayi dan balita di Balikpapan mengalami stunting,” ujarnya, Kamis (16/10/2025).
Kegiatan verifikasi mencakup pengukuran ulang tinggi dan berat badan bayi serta balita di seluruh kecamatan, disertai pemeriksaan kesehatan lanjutan. Dalam pelaksanaannya, DKK menggandeng Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sebagai mitra untuk memastikan validitas hasil.
“Kami ingin hasilnya benar-benar kredibel. Karena itu, IDAI turut dilibatkan agar setiap data yang masuk mencerminkan kondisi medis yang akurat,” jelas Alwiati.
Program verifikasi lapangan ini telah berlangsung sejak Juni 2025, tidak lama setelah pemerintah pusat merilis hasil survei nasional yang menunjukkan adanya kenaikan signifikan angka stunting di Balikpapan. Pemerintah daerah menilai perlu adanya validasi langsung agar kebijakan intervensi dapat disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan.
“Kita tahu survei nasional menggunakan metode sampling, sementara kondisi antarwilayah bisa berbeda. Karena itu, kami perlu memastikan angka faktualnya di tiap kelurahan,” tambahnya.
Selain pemeriksaan fisik, DKK juga melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap anak-anak yang terindikasi berisiko stunting. Pemeriksaan tersebut meliputi analisis kadar hemoglobin, asupan gizi, serta deteksi dini kekurangan mikronutrien.
“Jika ditemukan risiko, kami langsung tindak lanjuti dengan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan intervensi medis atau gizi yang dibutuhkan,” terang Alwiati.
Untuk mendukung pelaksanaan di lapangan, seluruh Puskesmas dan kader Posyandu di enam kecamatan turut dilibatkan. Petugas mendapatkan pelatihan mengenai pengukuran antropometri standar WHO serta penggunaan alat ukur digital guna memastikan data yang dikumpulkan seragam dan akurat.
“Dengan data yang valid, penanganan stunting dapat dilakukan lebih dini, tepat sasaran, dan berkelanjutan,” tutup Alwiati. (adv/metroikn)












