IKN Fokus Tekan Stunting, Pemerintah Kaltim Bentuk Task Force Khusus

IKN9 Dilihat

metroikn, NUSANTARA – Upaya penurunan stunting kembali menjadi sorotan di Kalimantan Timur. Angka prevalensi stunting di provinsi ini masih berada di level 22 persen, lebih tinggi dari angka nasional 19 persen. Kondisi tersebut menuntut intervensi yang lebih serius, terutama di wilayah sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN) yang tengah diproyeksikan menjadi pusat pemerintahan dan peradaban baru Indonesia.

Dalam rangka memperkuat koordinasi dan evaluasi, Agenda Apresiasi dan Monitoring Evaluasi Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) digelar di Kantor Otorita IKN, Jumat (5/12/2025). Kegiatan yang diinisiasi BKKBN Perwakilan Kaltim ini mempertemukan 150 peserta dari unsur pemerintah daerah, tenaga pelaksana gizi, hingga sektor swasta.

Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi forum apresiasi, tetapi juga ajang mengukur efektivitas program, mengidentifikasi tantangan, serta memperkuat sinergi lintas sektor—hal yang selama ini menjadi faktor kunci dalam penanggulangan stunting.

Salah satu fokus bahasan adalah intervensi di wilayah delineasi IKN. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Otorita IKN membentuk Task Force untuk memastikan pencegahan stunting berjalan berbasis data dan kebutuhan lapangan. Sebanyak 3.000 sasaran ditetapkan untuk menerima edukasi mengenai gizi dan akses air bersih. Dua aspek tersebut dianggap menjadi persoalan mendasar yang memengaruhi kesehatan ibu dan anak, terutama di kawasan yang tengah mengalami pembangunan intensif.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menilai percepatan penurunan stunting harus diprioritaskan sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai ibu kota politik pada 2028.

“Stunting harus kita turunkan, dan harus lebih cepat. Tahun depan akan ada program yang lebih masif,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten 1 Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Syirajudin, menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan IKN.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BKKBN Kalimantan Timur, Nurizky Permanajati, mengingatkan bahwa Kaltim masih menghadapi tantangan signifikan dalam menurunkan angka stunting. Ia menyebut kolaborasi pentahelix — pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media — sebagai pendekatan yang perlu diperkuat untuk mencapai target penurunan.

Acara tersebut juga menandai serah terima data keluarga berisiko stunting antara Otorita IKN dan BKKBN, yang diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan intervensi lebih tepat sasaran ke depan.

Dengan situasi angka stunting yang masih tinggi serta perkembangan pembangunan IKN yang terus berjalan, para pemangku kepentingan menegaskan bahwa keberhasilan menurunkan stunting bukan sekadar pencapaian program, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan generasi yang akan tumbuh di ibu kota baru Indonesia.