1.530 Kasus DBD di Kaltim, Dinkes Siapkan Vaksinasi dan Wolbachia untuk Tekan Penularan

KESEHATAN76 Dilihat

Metroikn, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memperkuat strategi pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di tengah masih tingginya jumlah kasus sepanjang 2026. Selain mengintensifkan pemberantasan sarang nyamuk, pemerintah mulai memperluas layanan vaksinasi dengue dan mendorong penerapan teknologi Wolbachia sebagai langkah pengendalian jangka panjang.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, mengatakan penanganan DBD kini tidak lagi hanya berfokus pada pengobatan pasien, tetapi juga diarahkan untuk menekan risiko penularan melalui berbagai inovasi kesehatan masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kaltim, hingga pertengahan 2026 tercatat sebanyak 1.530 kasus DBD di seluruh kabupaten dan kota, dengan dua kasus kematian akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti.

“Kami terus memperkuat langkah pencegahan agar angka kesakitan maupun kematian akibat DBD dapat ditekan,” ujar Jaya.

Salah satu upaya yang kini diperluas adalah layanan vaksinasi dengue. Menurut Jaya, vaksin menjadi perlindungan tambahan yang dapat membantu mengurangi risiko infeksi maupun keparahan penyakit, meski tetap tidak menggantikan langkah pencegahan yang selama ini dilakukan.

“Vaksinasi bukan pengganti upaya pencegahan yang selama ini dilakukan, tetapi menjadi perlindungan tambahan agar risiko terinfeksi dengue dapat ditekan dan dampak penyakitnya tidak semakin berat,” katanya.

Ia menjelaskan, layanan vaksin DBD kini telah tersedia di sejumlah rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan di Kalimantan Timur. Pemerintah berharap akses yang semakin luas dapat meningkatkan cakupan perlindungan masyarakat.

Selain vaksinasi, Dinas Kesehatan juga mulai mengembangkan penerapan teknologi Wolbachia sebagai inovasi pengendalian penyakit berbasis lingkungan. Teknologi ini memanfaatkan bakteri Wolbachia pada tubuh nyamuk Aedes aegypti untuk mengurangi kemampuan nyamuk dalam menyebarkan virus dengue.

“Teknologi Wolbachia merupakan inovasi yang memberi harapan baru dalam pengendalian DBD karena mampu menekan potensi penularan virus melalui nyamuk secara lebih efektif,” ujar Jaya.

Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan pengendalian DBD tetap bergantung pada keterlibatan masyarakat. Karena itu, warga diminta terus menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama pada pagi dan sore hari ketika nyamuk Aedes aegypti paling aktif menggigit.

“Pengendalian DBD membutuhkan keterlibatan semua pihak. Lingkungan yang bersih dan bebas jentik nyamuk tetap menjadi benteng pertama untuk mencegah penyebaran penyakit ini,” tegasnya.

Jaya menambahkan, upaya pencegahan harus terus dilakukan secara berkelanjutan karena capaian Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kalimantan Timur saat ini masih berada di angka 83,55 persen, sehingga masih perlu ditingkatkan untuk mendukung pengendalian DBD yang lebih optimal.