Metroikn, Samarinda – Kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan di lingkungan Pemerintah Kota Samarinda menunjukkan hasil mencolok. Tingkat kepatuhan Aparatur Sipil Negara (ASN) nyaris sempurna, menyentuh angka 99 persen, sekaligus berdampak pada efisiensi energi dan penurunan emisi.
Angka tersebut diperoleh dari sistem monitoring digital berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang digunakan pemerintah kota untuk memantau aktivitas pegawai secara real-time. Melalui dashboard ini, kinerja hingga tingkat kepatuhan ASN dapat terukur secara akurat.
“Secara rata-rata hampir 100 persen sudah sesuai dengan target dan harapan,” ujar Wali Kota Samarinda, Andi Harun.
Tak hanya soal kedisiplinan, kebijakan ini juga membawa dampak signifikan terhadap efisiensi. Konsumsi bahan bakar minyak berhasil ditekan hingga sekitar 1.900 liter per hari. Penggunaan listrik dan air ikut menurun, seiring berkurangnya aktivitas di kantor. Emisi gas buang pun ikut terkendali.
Sistem berbasis AI menjadi kunci pengawasan. Seluruh aktivitas ASN tercatat secara digital, sehingga celah manipulasi nyaris tidak ada.
“Semua aktivitas bisa dideteksi dan dilaporkan secara digital, jadi tidak bisa dimanipulasi,” tegasnya.
Meski begitu, tidak semua berjalan mulus. Sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) masih belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem tersebut. Dinas Perikanan, DP2PA, hingga Sekretariat DPRD menjadi perhatian karena tingkat kepatuhan yang belum optimal.
Pemerintah kota kini bersiap melakukan evaluasi untuk memastikan penyebabnya, apakah karena kendala teknis atau faktor lain.
“Kita akan cek apakah ini karena kurang paham atau memang disengaja,” kata Andi Harun.
Jika ditemukan pelanggaran yang bersifat disengaja, sanksi disiplin dipastikan akan diterapkan.
Di sisi lain, penerapan teknologi AI dalam sistem kerja ASN juga mendapat sorotan. AI Consultant Ainun Najib menyebut peran teknologi ini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar alat bantu.
“Sekarang AI bukan hanya tool, tapi sudah menjadi semacam rekan kerja atau asisten,” jelasnya.
Ia bahkan menilai Samarinda berpotensi menjadi daerah pertama di Indonesia yang mengarah pada konsep ASN berbasis AI, di mana kecerdasan buatan berperan sebagai pendamping dalam proses kerja pemerintahan.
Namun, ia mengingatkan agar pemanfaatan teknologi tetap dilakukan secara bijak dan tidak mengurangi kemampuan individu ASN.
“Gunakan AI sebagai teman belajar dan bekerja, bukan sebagai pengganti,” pungkasnya.









