Erupsi Anak Krakatau Capai Intensitas Tertinggi 2026, Abu Landa Pesisir Banten

NASIONAL52 Dilihat

Metroikn, Serang – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mulai mengganggu aktivitas warga di pesisir Kabupaten Serang, Banten. Sejumlah warga mengeluhkan mata perih, tenggorokan tidak nyaman, hingga terganggunya aktivitas belajar mengajar di sekolah.

Seperti dikutip dari ANTARA, abu mulai dirasakan warga di sekitar Pasauran, Kecamatan Cinangka, sejak Sabtu (5/9/2026) sore. Warga menyebut paparan debu semakin terasa sekitar pukul 17.00 WIB.

Sanan (42), warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, mengatakan debu vulkanik mulai menempel di kendaraan, tubuh hingga lantai rumah.

“Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai,” kata Sanan saat ditemui di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Sabtu malam.

Rentetan suara gemuruh dan getaran juga masih dirasakan warga sejak Jumat (4/9) malam. Kondisi tersebut membuat Sanan datang langsung ke Pos PGA Anak Krakatau untuk mendapatkan informasi mengenai aktivitas gunung.

Kekhawatiran serupa dirasakan Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka, Ajat Sudrajat. Ia mendatangi Pos PGA untuk memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau sebelum menyampaikan informasi kepada siswa dan wali murid.

Menurut Ajat, abu vulkanik cukup mengganggu ketika warga beraktivitas di luar ruangan.

“Di perjalanan, kalau keadaan tidak memakai masker itu sudah lumayan sakit ke tenggorokan, kemudian mata juga perih kalau tidak pakai kacamata. Walaupun kita tidak terlihat jelas di udara, tapi debu-debunya di pos pemantauan Krakatau ini kelihatan menumpuk,” ujarnya.

Ajat mengatakan aktivitas erupsi juga mulai berdampak terhadap kehadiran siswa di sekolah. Sebagian warga masih memilih bertahan karena suara dentuman dan aktivitas Gunung Anak Krakatau sudah menjadi hal yang cukup biasa bagi masyarakat Pasauran.

Namun, sebagian warga lainnya memilih mengamankan diri ke wilayah yang dianggap lebih aman.

“Masyarakat itu masih aman-aman saja karena hal-hal ini sudah biasa dan alami di warga Pasauran. Tetapi memang ada beberapa warga yang berinisiatif mengamankan dirinya sendiri ke daerah pegunungan,” katanya.

Erupsi Masih Berlangsung

Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri masih berlangsung. Berdasarkan laporan pemantauan yang dikutip ANTARA, rangkaian erupsi sejak Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) tercatat sebagai aktivitas dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang 2026.

Pengamat Gunung Api Anak Krakatau Muhammad Dika Nurzaman mengatakan aktivitas tersebut terindikasi berupa pancaran lava (lava fountain) yang mulai terjadi sekitar pukul 23.07 WIB pada Jumat malam dan terus berlanjut. Salah satu gempa letusan tercatat memiliki amplitudo maksimum 70 milimeter dengan durasi mencapai 21.600 detik.

Meski aktivitas meningkat, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan gunung dalam radius tiga kilometer dari kawah.

Sebaran abu juga bergantung pada arah angin. Kepala Pos PGA Anak Krakatau di Pasauran, Deni Mardiono, mengatakan material vulkanik terbawa angin yang bergerak ke arah timur sehingga mencapai wilayah pesisir Banten. Di sekitar pos pemantauan, abu yang turun pada Sabtu malam masih tergolong sangat tipis.

Namun, sebaran abu kemudian meluas. ANTARA melaporkan abu vulkanik telah berdampak ke wilayah Kabupaten Serang, Pandeglang, dan Kota Cilegon. Bahkan pada Minggu pagi, sebaran abu dilaporkan telah mencapai sebagian besar wilayah Kota Tangerang.

Dampaknya juga mulai terasa pada transportasi udara. Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Udara menyatakan Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara mulai pukul 01.30 hingga 05.30 WIB akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.