Prevalensi Stunting di Samarinda Turun ke 17 Persen, Dinkes Sebut Intervensi Mulai Berhasil

METROPOLIS35 Dilihat

Metroikn, Samarinda – Upaya penanganan stunting di Kota Samarinda menunjukkan tren positif. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat prevalensi stunting turun menjadi sekitar 17 persen berdasarkan hasil Pemantauan Pertumbuhan dan Gizi Masyarakat (PPGM), menandakan berbagai program intervensi yang dijalankan mulai membuahkan hasil.

Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan capaian tersebut menjadi indikator bahwa strategi penanganan stunting yang dilakukan selama ini berada pada jalur yang tepat. Dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di atas 20 persen, angka tersebut menunjukkan penurunan yang cukup signifikan.

“Data PPGM menunjukkan angka stunting kita sudah turun menjadi sekitar 17 persen. Sebelumnya masih di atas 20 persen, sehingga penanganan yang dilakukan sejauh ini masih berjalan sesuai target,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).

Ia berharap tren penurunan tersebut dapat terus dipertahankan sehingga target pemerintah dalam menekan prevalensi stunting dapat tercapai dalam beberapa tahun ke depan.

Meski demikian, Ismed menegaskan penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Menurutnya, persoalan stunting dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola asuh, pemenuhan gizi, sanitasi, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga, sehingga membutuhkan keterlibatan lintas sektor.

“Penanganan stunting memerlukan kerja sama semua pihak, baik organisasi perangkat daerah, pemerintah hingga tingkat kelurahan, maupun masyarakat,” katanya.

Selain memperkuat kolaborasi, Dinkes Samarinda juga menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi mendukung percepatan penurunan stunting. Namun, dampaknya belum dapat dievaluasi secara menyeluruh karena pada tahap awal program masih lebih banyak menyasar peserta didik.

Menurut Ismed, manfaat program tersebut diperkirakan akan semakin terasa ketika sasaran mulai diperluas kepada kelompok yang lebih rentan mengalami masalah gizi.

“Ke depan sasaran MBG mulai diarahkan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kelompok ini diharapkan memberikan dampak yang lebih besar terhadap upaya penurunan stunting,” jelasnya.

Dinkes Samarinda optimistis penguatan kolaborasi lintas sektor, disertai intervensi yang semakin tepat sasaran, akan mempercepat penurunan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di Kota Samarinda.