Tak Sekadar Jualan, UMKM di Nusantara Dibimbing Kelola Keuangan dan Akses Pembiayaan

IKN31 Dilihat

Metroikn, Nusantara – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) terus berupaya memastikan masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton di tengah pesatnya pembangunan ibu kota baru. Salah satu fokus yang kini diperkuat adalah mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu berkembang, naik kelas, dan menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi Nusantara.

Langkah tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Akademi SIAPIK (AKSI) 2026 dan Business Matching Pembiayaan UMKM 2026 di Kantor Bersama Kemenko 4, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Rabu (10/6/2026).

Kegiatan ini digagas Sekretariat Kerja Bersama KOPERBI IKN bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Program tersebut menyasar pelaku UMKM di wilayah IKN dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dengan tujuan memperkuat literasi keuangan, memperluas akses pembiayaan, sekaligus meningkatkan kemampuan pengelolaan usaha.

Lewat Akademi SIAPIK, peserta mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK), mulai dari pencatatan transaksi usaha, pengelolaan keuangan sederhana, hingga pemahaman mengenai sistem pembayaran digital, ekonomi syariah, kebanksentralan, dan perlindungan konsumen.

Tak hanya dibekali teori, para pelaku usaha juga dipertemukan langsung dengan berbagai lembaga jasa keuangan dan perbankan melalui forum business matching untuk membuka peluang pembiayaan sesuai kebutuhan usaha masing-masing.

Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, menilai penguatan UMKM menjadi salah satu kunci agar manfaat pembangunan Nusantara dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

“Kami mengapresiasi Bank Indonesia, OJK, serta seluruh pihak yang terus bersinergi dalam memperkuat kapasitas UMKM melalui program seperti Akademi SIAPIK. Inisiatif ini sangat penting karena UMKM merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat yang akan tumbuh bersama perkembangan Nusantara,” ujarnya.

Menurut Alimuddin, pembangunan IKN tidak semata menghadirkan gedung pemerintahan dan infrastruktur baru, tetapi juga harus menciptakan ruang tumbuh bagi masyarakat lokal.

Karena itu, pelaku UMKM didorong untuk terus meningkatkan kualitas produk, memperkuat tata kelola usaha, serta memanfaatkan peluang pasar yang semakin terbuka seiring berkembangnya Nusantara.

“Kami ingin para pelaku UMKM lokal percaya diri dan terus meningkatkan kapasitas usahanya. Kehadiran IKN membuka ruang yang sangat besar untuk berkembang, baik dari sisi pasar, kemitraan, maupun akses pembiayaan,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antarpelaku usaha. Menurutnya, UMKM tidak bisa berkembang sendirian karena ekosistem ekonomi yang kuat dibangun melalui rantai usaha yang saling terhubung.

“Bisa jadi produk satu UMKM menjadi bahan baku bagi UMKM lainnya. Karena itu, sinergi dan kolaborasi harus terus diperkuat agar UMKM lokal tumbuh bersama dan semakin tangguh,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Sekretariat Kerja Bersama KOPERBI IKN, Aura Pandu Wirawan, mengatakan tema kegiatan tahun ini, ENERGI (Edukasi dan siNERGI), dipilih untuk menegaskan pentingnya kolaborasi dalam membangun kapasitas pelaku usaha lokal.

Menurut Pandu, UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus terbukti bertahan saat berbagai krisis ekonomi terjadi.

“Edukasi dan sinergi menjadi dua hal yang sangat penting. Melalui kolaborasi ini, kami ingin meningkatkan kapasitas UMKM agar semakin kuat, semakin maju, dan mampu memanfaatkan peluang ekonomi yang berkembang di kawasan IKN,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaku usaha yang menunjukkan potensi berkembang akan mendapatkan pendampingan lanjutan, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, bantuan teknis, akses pasar, hingga dukungan pembiayaan.

Selain itu, mereka juga berpeluang mengikuti berbagai program promosi dan pameran, termasuk Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) dan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF).

Pandu menambahkan, pencatatan keuangan yang baik menjadi salah satu faktor penting agar UMKM lebih mudah mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan formal.

“Melalui SIAPIK, pelaku usaha bisa mencatat pemasukan, pengeluaran, keuntungan, hingga perkembangan usaha secara lebih terstruktur. Ini akan sangat membantu ketika mengajukan pembiayaan ke perbankan,” jelasnya.

Manfaat program tersebut turut dirasakan para pelaku usaha. Salah satunya Reni Sayu, pengusaha keripik pisang asal Penajam Paser Utara yang mengaku selama ini masih menggunakan metode pencatatan manual.

“Kadang ada transaksi yang tidak tercatat, bahkan modal usaha sering tercampur dengan kebutuhan pribadi. Di sini kami belajar bagaimana mengelola keuangan usaha secara lebih baik dan modern menggunakan aplikasi digital,” katanya.

Reni menilai perkembangan IKN membuka peluang baru bagi UMKM lokal karena semakin banyak masyarakat dan pendatang yang datang ke kawasan tersebut.

“Peluangnya sangat besar. IKN sekarang menjadi salah satu tujuan kunjungan masyarakat. Kalau UMKM bisa masuk dan berkembang di sini, kesempatan untuk tumbuh juga semakin besar,” ujarnya.

Melalui AKSI 2026 dan Business Matching Pembiayaan UMKM, Otorita IKN bersama Bank Indonesia dan OJK berharap semakin banyak pelaku usaha lokal yang mampu mengelola bisnis secara profesional, memperoleh akses layanan keuangan formal, serta menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Nusantara yang terus berkembang.