ESDM Kaltim Soroti Ketidakpastian RKAB: Industri Batu Bara Tertekan, IEE Series Jadi Ajang Konsolidasi Solusi

METROPOLIS44 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur menyoroti tekanan berat yang tengah dihadapi industri batu bara di Kalimantan Timur, menyusul kebijakan pembatasan produksi yang dinilai mulai berdampak pada aktivitas tenaga kerja di sektor pertambangan hingga rantai pasoknya.

Kepala Dinas ESDM Kaltim, Dr. Bambang Arwanto, menyebut sedikitnya 180 ribu pekerja terlibat langsung di sektor pertambangan dari 307 tambang aktif di Kalimantan Timur. Jumlah tersebut belum termasuk tenaga kerja di sektor turunan seperti pengangkutan, pengapalan, hingga jasa pendukung yang totalnya diperkirakan mendekati 300 ribu orang.

“Kalau kita bicara industri ini, dampaknya sangat luas. Di hulu saja sudah sekitar 180 ribu pekerja, belum lagi rantai pasoknya yang bisa mendekati 300 ribu,” ujarnya dalam rangka pembukaan Indonesia Energy and Engineering Series (IEE Series) Balikpapan 2026, Rabu (10/6/2026).

Ia mengungkapkan, adanya potensi pengurangan produksi batu bara dalam skema RKAB disebut dapat menekan aktivitas industri secara signifikan. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menimbulkan dampak lanjutan terhadap tenaga kerja di daerah.

“Dengan adanya penyesuaian produksi yang cukup besar, tentu ada efek ke lapangan kerja. Kita perkirakan bisa mencapai sekitar 40 ribu pekerja yang terdampak,” kata Bambang.

Bambang menilai, situasi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah pusat, mengingat Kalimantan Timur selama ini menyumbang sekitar 60 persen produksi batu bara nasional. Ia menegaskan pentingnya kebijakan yang mempertimbangkan kondisi riil di daerah.

“Kita berharap suara daerah ini bisa didengar. Karena kebijakan produksi ini sangat berpengaruh pada ekonomi Kalimantan Timur yang selama ini ditopang sektor tambang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi industri yang masih berada dalam fase ketidakpastian, di tengah fluktuasi harga komoditas global, nilai tukar rupiah, serta biaya operasional yang terus bergerak.

“Situasi saat ini belum stabil. Harga batu bara memang ada pergerakan, tapi biaya operasional juga ikut naik, termasuk solar,” tambahnya.

Meski demikian, Bambang menegaskan bahwa IEE Series Balikpapan 2026 menjadi ruang penting untuk menjaga optimisme industri. Pameran ini dinilai bukan sekadar ajang promosi, tetapi juga wadah konsolidasi pelaku industri energi, pertambangan, migas, dan konstruksi.

“Event ini kita harapkan jadi ruang bertemu, bertukar teknologi, dan mencari solusi bersama. Saat industri sedang menantang, justru di sini kita butuh kolaborasi,” ujarnya.