Metroikn, Samarinda – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Timur terus bertambah. Hingga saat ini, tercatat 231 kasus tersebar di sejumlah wilayah, dengan fokus penanganan diarahkan untuk menekan angka kematian agar tidak melampaui 0,4 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa kecepatan penanganan menjadi faktor penentu dalam menyelamatkan pasien. Keterlambatan penanganan berpotensi membawa pasien masuk ke fase kritis yang lebih sulit ditangani.
“Penanganan awal harus cepat agar kondisi pasien tidak masuk fase kritis,” ujarnya.
Memasuki masa peralihan menuju musim kemarau, risiko penyebaran DBD dinilai masih cukup tinggi. Kondisi ini membuat seluruh fasilitas kesehatan diminta mempercepat proses rujukan, terutama bagi pasien dengan gejala berat.
Data menunjukkan Samarinda menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, mencapai 46 kasus. Disusul Kutai Kartanegara dengan 39 kasus. Kedua daerah ini kini menjadi prioritas dalam penguatan layanan kesehatan.
“Percepatan penanganan dan penguatan layanan kesehatan difokuskan di daerah dengan kasus tertinggi,” kata Jaya.
Di sisi pencegahan, Dinkes terus mendorong gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui metode 3M Plus, mulai dari menguras, menutup, hingga mendaur ulang tempat penampungan air. Masyarakat juga diminta mengaktifkan kembali peran juru pemantau jentik di lingkungan masing-masing.
“Pencegahan tetap menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan,” jelasnya.
Selain itu, distribusi bubuk Abate gratis di puskesmas juga dimaksimalkan sebagai langkah pengendalian. Sementara fogging disiapkan sebagai opsi terakhir jika ditemukan penyebaran kasus secara luas.
Dinkes memastikan seluruh rumah sakit rujukan dalam kondisi siap, baik dari sisi tenaga medis maupun logistik, untuk menangani lonjakan kasus jika terjadi.
Dengan kombinasi penanganan cepat dan pencegahan di tingkat masyarakat, pemerintah optimistis angka kematian akibat DBD di Kalimantan Timur bisa ditekan sesuai target yang telah ditetapkan.









