BMKG Deteksi Pergeseran Musim, BPBD Kaltim Wanti-wanti Soal Air dan Karhutla

KALTIM21 Dilihat

Metroikn, Samarinda – adan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur menyebut musim kemarau tahun ini mengalami pergeseran. Jika sebelumnya diprediksi mulai April, kini kemarau diperkirakan baru terjadi pada akhir April hingga Mei.

Kepala BPBD Kaltim, Buyung Budi Purnomo, mengatakan perubahan ini dipengaruhi masih tingginya curah hujan berdasarkan data terbaru BMKG.

“Terjadi pergeseran. Kemarau yang diperkirakan mulai April kini mundur ke akhir April atau Mei, dengan puncak pada Juli hingga Agustus,” ujarnya.

Ia menjelaskan, puncak musim kemarau berpotensi menimbulkan dampak serius, terutama berkurangnya ketersediaan air bersih dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Yang perlu diantisipasi adalah cadangan air bersih dan potensi kebakaran saat hari tanpa hujan semakin panjang,” jelasnya.

Meski begitu, kondisi saat ini masih relatif aman. BPBD mencatat durasi hari tanpa hujan di Kaltim masih di bawah 10 hari, sehingga risiko kebakaran masih terkendali.

Di sektor pertanian, pemerintah mendorong percepatan masa tanam sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kering.

“Percepatan tanam bisa dilakukan agar tidak terdampak saat kemarau mencapai puncak,” katanya.

BPBD juga terus memantau titik panas di sejumlah wilayah, termasuk Kutai Kartanegara, meskipun masih perlu verifikasi lebih lanjut.

Menurutnya, titik panas bisa berasal dari berbagai aktivitas, namun perlu diwaspadai jika muncul dan bertahan dalam waktu lama.

Terkait potensi El Nino, Buyung menyebut tahun ini belum menunjukkan tanda-tanda ekstrem seperti yang terjadi pada 2015.

“Kami harap tidak seperti 2015. Dengan curah hujan yang masih ada, risiko kebakaran bisa ditekan,” ujarnya.

BPBD Kaltim kini memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi dampak kemarau, termasuk menjaga ketahanan pangan dan mencegah gagal panen.

“Kesiapsiagaan penting agar dampak kemarau bisa diminimalisir,” tutupnya.