Bukan Sekadar Pentas, Kebangkitan Mahardika Dimulai dari Panggung yang “Retak”

METROPOLIS36 Dilihat

Metroikn, Samarinda – Setelah nyaris tujuh tahun tenggelam dalam sunyi, Teater Mahardika SMAN 8 Samarinda akhirnya kembali menyalakan panggungnya. Minggu malam, 26 April 2026, di Taman Budaya Kaltim, mereka tidak sekadar tampil, tetapi seperti mengumumkan bahwa mereka belum selesai.

Pentas Tunggal yang sempat hilang sejak 2019 kini hadir lagi. Bagi Mahardika, ini bukan jeda biasa. Ini kehilangan panjang yang akhirnya dijawab dengan sebuah keberanian baru.

“Ini bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah momen kebangkitan,” kata Ketua Teater Mahardika, Aji.

Namun, alih-alih memilih naskah ringan, mereka justru kembali dengan RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang. Sebuah teks yang dikenal tidak mudah dipahami dan jauh dari kata aman untuk dipentaskan.

Di bawah arahan sutradara Haura, naskah absurdis itu tidak dibiarkan mengambang. Ia dibongkar, ditarik ke realitas, lalu disusun ulang dengan pendekatan realisme yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tokoh-tokohnya kini terasa nyata. Mereka hidup di kolong jembatan. Bukan lagi sekadar simbol, tetapi potret manusia yang bisa ditemui di sudut kota mana pun.

Kakek bertahan hidup dengan memulung. Pincang mengais belas kasihan. Bopeng mengamen. Ani dan Ina menjual tubuh. Ati datang sebagai sosok yang kalah oleh keadaan. Semuanya tampak wajar, bahkan terlalu dekat.

Namun justru di situ letak keganjilannya. Hidup mereka terlihat masuk akal, tapi tetap berakhir berantakan.

Cerita bergerak perlahan, lalu tanpa terasa saling meruntuhkan. Kepergian Bopeng untuk menjadi kelasi kapal membuka celah yang tidak tertutup. Ani memilih menikah dengan pelanggan tetapnya. Ina ikut pergi. Pincang kehilangan arah.

Semua bergerak, tapi tidak ada yang benar-benar sampai.

Di titik itu, panggung berhenti sekadar bercerita. Ia mulai mengajukan pertanyaan.

“Kadang, ia (absurditas) hadir dalam kehidupan yang terlalu masuk akal,” ucap Haura.

Menjelang akhir, panggung justru semakin sunyi. Satu per satu tokoh pergi. Yang tersisa hanya Kakek, diam menyaksikan semuanya runtuh. Bukan karena konflik besar, tapi karena keputusan-keputusan kecil yang terasa wajar.

Pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban. Ia justru meninggalkan sesuatu yang menggantung.

Bagi praktisi teater Kaltim, Fachri Mahayupa, pilihan ini menunjukkan Mahardika tidak sekadar kembali, tetapi berbicara ulang lewat panggung.

“Mungkin itu sebabnya pertunjukan ini layak ditunggu. Bukan karena semuanya akan terasa indah. Tapi karena ada kemungkinan, setelah lampu padam, ada sesuatu yang masih tertinggal di kepala. Dan tidak semua pertunjukan bisa melakukan itu,” ujarnya.

Comeback ini menjadi penanda. Setelah lama sunyi, Mahardika tidak memilih jalan aman. Mereka justru datang dengan pertanyaan, dengan kegelisahan, dan dengan keberanian untuk menggugat.

Barangkali dari situlah panggung mereka hidup kembali.