Mengubah Pendidikan dari Dalam Kelas, Interport Bawa Pendekatan Baru CSR di Bidang Pendidikan

PENDIDIKAN425 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Peningkatan kualitas pendidikan tidak selalu dimulai dari pembangunan gedung atau penyediaan fasilitas belajar. Bagi PT Interport Mandiri Utama, perubahan juga dapat dimulai dari ruang kelas, melalui peningkatan kapasitas guru sebagai penggerak utama pembelajaran.

Hal itu diwujudkan Interport bersama Indika Foundation melalui Pelatihan Peningkatan Kapasitas Guru SD bertema “Mengenal Numerasi Lebih Dalam” yang digelar selama tiga hari, Senin-Rabu (20-22 Juli 2026), di Hotel Pacific Balikpapan.

Sebanyak 32 guru SD dari sejumlah sekolah di wilayah operasional Interport mengikuti pelatihan yang berfokus pada penguatan kemampuan guru dalam menghadirkan pembelajaran numerasi yang lebih relevan dan mudah diterapkan bagi siswa.

Corporate Social Responsibility PT Interport Mandiri Utama, Ricky Aprilyanto, mengatakan program tersebut tidak dirancang berdasarkan asumsi perusahaan, melainkan melalui proses pemetaan kebutuhan bersama sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Balikpapan.

Sebelum pelatihan digelar, Interport melakukan asesmen untuk mengetahui tantangan pendidikan yang paling membutuhkan perhatian di wilayah sekitar operasional perusahaan.

“Program ini sebenarnya sudah kami rencanakan sejak setahun lalu. Sebelum membuat program, kami melakukan analisa terlebih dahulu agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan guru,” ujar Ricky.

Dari hasil diskusi bersama sekolah, khususnya SD dan SMP 21 Balikpapan, kata Ricky, terdapat kebutuhan penguatan kapasitas pendidik dalam bidang literasi dan numerasi.

“Dari mereka menyampaikan bahwa yang dibutuhkan adalah pelatihan literasi dan numerasi. Karena itu kami mencoba membantu dari sisi peningkatan kapasitas guru,” katanya.

Menurut Ricky, numerasi dipilih sebagai fokus awal karena kemampuan tersebut masih menjadi salah satu tantangan dalam dunia pendidikan. Sementara penguatan literasi akan dikembangkan melalui program berikutnya.

“Literasi dan numerasi itu pembahasannya panjang. Jadi kami fokuskan dulu pada numerasi. Setelah ini akan ada program pendampingan agar ilmu yang diperoleh guru selama pelatihan bisa diterapkan,” jelasnya.

Ricky mengatakan, pendekatan Interport dalam program pendidikan diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia, khususnya guru yang menjadi pihak paling dekat dengan proses pembelajaran siswa.

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada fasilitas yang tersedia, tetapi juga kemampuan tenaga pendidik dalam menyampaikan materi dan membangun cara berpikir peserta didik.

“Kalau kita bicara pendidikan, yang bisa mengembangkan dan mengubah tingkat pendidikan adalah guru. Orang yang berada paling depan saat proses pembelajaran adalah guru,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendidikan menjadi salah satu dari empat fokus program sosial Interport selain kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Namun, untuk sektor pendidikan, perusahaan memilih mengambil peran melalui peningkatan kapasitas tenaga pendidik.

“Untuk pendidikan, kami memang lebih fokus kepada pengembangan kapasitas guru, bukan hanya fasilitas. Karena fasilitas bisa menjadi bagian dari pihak lain, sementara kami ingin mengambil peran di pengembangan sumber daya manusianya,” kata Ricky.

Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari pelaksanaan pelatihan, tetapi dari dampak setelah kegiatan berakhir.

Karena itu, Interport menyiapkan pendampingan lanjutan untuk melihat penerapan materi pelatihan dalam proses pembelajaran di sekolah.

“Kami ingin program ini berkelanjutan. Jadi bukan hanya sekali berjalan, tetapi ada pendampingan dan evaluasi untuk melihat apakah ilmu yang diberikan benar-benar diterapkan oleh guru,” ujarnya.

Program pelatihan tersebut kemudian mendapat respons positif dari para peserta. Plt Kepala SD Negeri 021 Balikpapan Barat, Adi Kurniawan, mengatakan peningkatan kapasitas guru menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi tantangan pendidikan saat ini.

Menurutnya, persoalan pendidikan bukan hanya mengenai ketersediaan fasilitas, tetapi bagaimana guru mampu menyampaikan konsep pembelajaran dengan metode yang sesuai karakter siswa.

“Kesulitannya mungkin pada pemahaman konsep. Khususnya di sekolah dasar, pembelajaran harus lebih konkret dan penerapannya harus terus dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Adi.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat membantu guru mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif sehingga berdampak pada peningkatan kemampuan peserta didik.

Melalui program ini, Interport berharap para guru tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan dengan membagikan praktik pembelajaran kepada rekan pendidik lainnya.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kualitas pendidikan Balikpapan melalui investasi pada sumber daya manusia, terutama guru yang menjadi penggerak utama proses pembelajaran di sekolah.