Mencari Wajah Budaya IKN, Otorita dan BI Lahirkan Motif Batik Nusantara

IKN72 Dilihat

Metroikn, Nusantara – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan teknologi, tetapi juga pada penguatan identitas budaya. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Pengembangan Motif Batik bagi Pengrajin Wastra yang diselenggarakan Otorita IKN bersama Bank Indonesia pada 17–19 Juni 2026 di Kantor Kemenko 1 IKN.

Kegiatan ini menjadi ruang kreatif bagi para pengrajin wastra di sekitar kawasan IKN untuk menerjemahkan gagasan, cerita, dan karakter Nusantara ke dalam karya batik yang memiliki ciri khas tersendiri.

Sebanyak sembilan kelompok batik dan wastra dengan total 50 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Dari jumlah itu, 30 pengrajin batik mendapatkan pendampingan khusus dalam pengembangan desain dan motif.

Selama tiga hari, peserta diajak memahami proses kreatif mulai dari pencarian ide melalui mind mapping, penyusunan moodboard, pengembangan elemen visual, hingga penyusunan komposisi dan penyempurnaan desain motif batik.

Pendampingan diberikan oleh pelaku usaha dan pengembang batik, Tepa Selira, yang mendorong para pengrajin untuk menghadirkan karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki cerita dan karakter yang kuat.

Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Palinrungi, mengatakan potensi wastra di kawasan IKN terus berkembang dan perlu diperkuat agar mampu bersaing di tingkat yang lebih luas.

“Wastra di sekitar IKN sudah tumbuh dan berkembang. Namun, tentu masih perlu penguatan agar produk yang dihasilkan memiliki daya saing dan mampu bersanding dengan batik-batik yang sudah dikenal luas,” ujarnya.

Menurut Muhsin, pengembangan motif batik tidak hanya berbicara soal estetika, tetapi juga menjadi sarana untuk menghadirkan identitas daerah dalam sebuah karya yang dapat dikenal masyarakat luas.

Hal senada disampaikan Kepala SKB Bank Indonesia IKN, Aura Pandu Wirawan. Menurutnya, identitas IKN perlu dibangun melalui berbagai karya kreatif masyarakat, termasuk batik dan wastra.

“Semakin hari IKN semakin ramai. Identitasnya perlu kita tonjolkan. Harapannya, desain yang lahir dari kegiatan ini memiliki unsur modern, karena IKN juga membawa semangat transformasi dan digitalisasi. Kita ingin menghasilkan karya yang sederhana, anggun, tetapi tetap memiliki karakter,” katanya.

Bagi para peserta, pelatihan ini membuka perspektif baru dalam mengembangkan karya batik. Salah satunya dirasakan Rusmayawati, pengrajin asal Kecamatan Samboja.

“Pelatihan ini menambah wawasan kami agar tidak menghasilkan karya yang monoton. Kami belajar bagaimana mengubah imajinasi visual tentang IKN menjadi sebuah karya nyata yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Ke depan, karya-karya yang lahir dari workshop ini diharapkan menjadi bagian dari identitas budaya Nusantara, sekaligus memperkuat posisi IKN sebagai kota masa depan yang tumbuh seiring dengan kekayaan budaya dan kreativitas masyarakatnya.