Lari, Renang hingga Seret Beban 90 Kg, Ujian Terakhir Rescuer IMERC 2026

METROPOLIS70 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Setelah tiga hari menghadapi berbagai skenario penyelamatan, peserta Indonesia Mining Emergency Response Community (IMERC) 2026 memasuki ujian terakhir pada Minggu (9/8/2026). Dua tantangan penutup, Individual Skill dan Fire Fighter Combat Challenge, menguji kemampuan rescuer dari sisi yang berbeda.

Jika sebagian besar kategori sebelumnya menuntut kerja tim dalam menghadapi korban dan kondisi darurat, dua kategori terakhir membawa peserta pada tantangan yang lebih personal. Kemampuan dasar seorang rescuer, ketepatan menjalankan tugas, kecepatan, hingga ketahanan fisik menjadi bagian yang menentukan.

Satu peserta baru saja menyelesaikan tantangannya ketika peserta lain langsung berlari mengambil alih. Tidak ada jeda panjang. Setiap anggota tim harus bergerak cepat agar rangkaian tantangan terus berjalan.

Pola estafet tersebut menjadi bagian dari ujian terakhir di fasilitas pelatihan Garuda Rescue Nusantara (GRN), Balikpapan.

Dalam satu rangkaian tantangan, peserta harus melewati sejumlah aktivitas fisik yang menggambarkan beban kerja seorang rescuer, mulai dari berlari dan berenang, membawa gulungan selang, mengangkat beban dengan sistem tali, bergerak cepat melewati tangga hingga wall climbing.

Setiap tahapan dikerjakan peserta yang berbeda. Begitu menyelesaikan tugasnya, peserta harus segera berlari atau sprint menuju rekannya untuk melanjutkan rangkaian berikutnya.

Puncaknya adalah simulasi evakuasi korban dengan menyeret boneka berbobot 90 kilogram sejauh 100 meter.

Rangkaian tersebut membuat tantangan hari terakhir bukan sekadar persoalan siapa yang memiliki kekuatan fisik paling besar. Setiap peserta harus mampu menyelesaikan tugas dengan cepat dan tepat, sementara anggota tim lainnya harus siap mengambil alih pada saat yang ditentukan.

Hasil akhir rangkaian challenge menunjukkan ketatnya persaingan antartim. Cipta Kridatama menjadi tim dengan catatan waktu tercepat, yakni 07:38:56.

Posisi kedua ditempati PT Berau Coal dengan waktu 07:40:73, disusul PT Multi Harapan Utama di posisi ketiga dengan catatan 08:11:70.

Selisih waktu yang tipis antara posisi pertama dan kedua memperlihatkan bagaimana setiap tahapan dalam rangkaian menjadi penting. Kecepatan satu peserta harus segera disambung dengan ketepatan peserta berikutnya agar tim dapat menjaga ritme hingga tantangan terakhir.

Bagi seorang rescuer, kondisi seperti itu bukan sesuatu yang asing. Dalam keadaan darurat sebenarnya, pekerjaan penyelamatan berlangsung dalam tekanan waktu, kondisi fisik yang terkuras dan lingkungan yang tidak selalu mudah dikendalikan.

Kemampuan fisik karena itu harus berjalan bersama teknik, komunikasi dan pengambilan keputusan. Prinsip keselamatan tetap menjadi dasar, meski teknik yang digunakan setiap tim dapat berbeda.

“Selalu ada banyak cara untuk melakukan sesuatu. Itu sebabnya kapten sangat penting. Dia membuat rencana, memastikan aman, memastikan berhasil, lalu tim menjalankannya,” ujar Kapten Tim Northern Star Resources Australia, Alice.

Founder Mining Emergency Response Competition (MERC) Australia, Sue Steele, mengatakan perkembangan komunitas rescue juga harus dibangun melalui budaya keselamatan.

Menurut Sue, pendekatan terhadap penanganan keadaan darurat di Indonesia dan Australia memiliki sejumlah perbedaan, terutama dalam aspek medis. Namun, keduanya dapat saling melengkapi melalui latihan dan pertukaran pengalaman.

Sementara itu, Founder IMERC Jen Pearce menilai salah satu perkembangan positif pada penyelenggaraan tahun kedua adalah perubahan cara peserta menangani korban.

Jika pada IMERC 2025 masih banyak tim yang terlalu berorientasi pada kecepatan, tahun ini semakin banyak peserta yang mulai menempatkan penanganan korban sebagai prioritas.

“Di event MERC Australia, penanganan korban adalah yang dinilai utama. Kecepatan atau waktu mempunyai poin kecil,” ujar Jen.

Menurut Jen, perubahan tersebut menjadi salah satu hasil penting dari proses belajar bersama antara rescuer Indonesia dan Australia.

“Jika tahun lalu kami masih banyak melihat tim yang ikut serta sangat terburu-buru menangani korban, tahun ini kami melihat banyak tim yang sudah memprioritaskan korban dibanding waktu penanganan. Itu sesuatu yang sangat bagus,” katanya.

Sebelumnya, peserta IMERC 2026 telah melewati berbagai kategori yang menguji kemampuan penyelamatan dalam kondisi berbeda, mulai dari Road Crash Rescue, Vertical Rescue, Confined Space Rescue, Structural Fire Fighting, hingga Under Water Rescue & Recovery.

Pada hari terakhir, kemampuan tersebut kembali diuji dari sisi yang lebih mendasar, yaitu kesiapan fisik setiap personel untuk menjalankan tugas ketika tubuh mulai kelelahan.

Dari satu peserta ke peserta berikutnya, rangkaian ujian akhirnya ditutup dengan simulasi menarik korban seberat 90 kilogram.

Bukan hanya soal siapa yang paling cepat sampai garis akhir, tetapi seberapa baik sebuah tim mampu menjaga setiap mata rantai penyelamatan tetap bergerak hingga korban berhasil dibawa ke tempat aman.