Jika Serangan Jantung Terjadi di Kantor, Seberapa Siap Tim PLN Menanganinya?

METROPOLIS50 Dilihat

Meroikn, Balikpapan – Seberapa cepat tim tanggap darurat bertindak ketika menghadapi korban serangan jantung? Pertanyaan itu diuji PLN Unit Pelaksana Pembangunan Kalimantan Timur 1 (UPP KLT 1) melalui simulasi tanggap darurat di Kantor PLN UPP KLT 1, Balikpapan, 28 Agustus 2026.

Simulasi tersebut menjadi bagian dari edukasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) internal yang menghadirkan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Balikpapan. Kegiatan diikuti pegawai dan Tenaga Alih Daya (TAD) PLN UPP KLT 1.

Tidak hanya mendapatkan materi pertolongan pertama, peserta juga langsung dihadapkan pada skenario kegawatdaruratan. Tim Tanggap Darurat PLN UPP KLT 1 diminta menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh untuk menangani korban yang mengalami serangan jantung.

Rangkaian simulasi dimulai dari mengenali kondisi korban, memberikan pertolongan awal, melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD), hingga berkoordinasi dengan pihak terkait.

Manager PLN UPP KLT 1 I Made Gita Prawira mengatakan kesiapan menghadapi keadaan darurat tidak cukup hanya dengan memahami prosedur. Setiap personel perlu mampu menerapkannya ketika kondisi darurat benar-benar terjadi.

“Keselamatan tidak hanya tentang bagaimana kita mencegah terjadinya kecelakaan, tetapi juga memastikan setiap personel memiliki kesiapan untuk bertindak ketika kondisi darurat terjadi. Kami ingin memastikan kesiapan itu tidak berhenti pada pemahaman prosedur, tetapi dapat diterapkan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi,” ujarnya.

Sebelum simulasi, PMI Kota Balikpapan memberikan edukasi mengenai Pertolongan Pertama Tingkat Dasar dan Bantuan Hidup Dasar. Materi tersebut mencakup langkah-langkah pertolongan awal yang dapat dilakukan ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan, termasuk serangan jantung.

Setelah simulasi selesai, PMI tidak hanya memberikan materi, tetapi juga melakukan penilaian terhadap respons Tim Tanggap Darurat PLN UPP KLT 1. Evaluasi mencakup ketepatan tindakan, koordinasi antarpersonel, serta kesiapan tim dalam menghadapi situasi darurat.

Hasil evaluasi tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena simulasi tidak berhenti pada latihan. Tim dapat melihat bagian mana yang sudah berjalan sesuai prosedur dan aspek yang masih perlu diperbaiki ketika menghadapi kondisi serupa.

PLN UPP KLT 1 menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kompetensi pegawai di bidang K3 sekaligus latihan agar Tim Tanggap Darurat mampu mengambil tindakan secara cepat dan terukur ketika menghadapi keadaan darurat di lingkungan kerja.

Dengan simulasi dan evaluasi secara berkala, kesiapan tim diharapkan tidak hanya terlihat ketika latihan berlangsung, tetapi juga terbentuk sebagai kemampuan yang dapat diterapkan saat kondisi darurat benar-benar terjadi.