Metroikn, Samarinda – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur meminta pemerintah daerah, perusahaan, hingga masyarakat tetap siaga menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meski hujan masih turun di sejumlah wilayah.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi, mengatakan musim kemarau tahun ini mengalami pergeseran dibandingkan prakiraan sebelumnya. Jika semula diprediksi berlangsung pada akhir Juni hingga Agustus, kini periode kering diperkirakan baru berlangsung mulai akhir Juli dan dapat berlanjut hingga September, Oktober, bahkan November.
“Perkiraan awal musim kering dimulai akhir Juni hingga Agustus. Namun sekarang bergeser dan diperkirakan berlangsung mulai akhir Juli sampai September, Oktober, bahkan November,” ujarnya.
Menurut Buyung, curah hujan yang masih terjadi di beberapa daerah memang membantu menekan penyebaran api. Namun kondisi tersebut bukan berarti risiko karhutla telah berkurang.
BPBD Kaltim masih mencatat kejadian kebakaran hampir setiap hari di berbagai kabupaten dan kota. Sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia, dengan luas lahan terbakar umumnya kurang dari lima hektare.
Ia menyebut Kabupaten Kutai Timur, Kutai Barat, dan Berau menjadi wilayah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi. Meski demikian, seluruh daerah di Kalimantan Timur tetap berpotensi mengalami kebakaran, terutama saat curah hujan mulai menurun.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD Kaltim terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota agar setiap kejadian dapat segera ditangani. Pemantauan juga dilakukan melalui sistem deteksi titik panas (hotspot) yang diperbarui secara berkala sebagai bagian dari upaya deteksi dini.
Buyung mengingatkan bahwa keberadaan hotspot tidak selalu menandakan adanya kebakaran karena dapat dipicu pantulan panas dari objek tertentu. Karena itu, setiap temuan harus diverifikasi langsung di lapangan sebelum dilakukan penanganan.
“Hotspot belum tentu merupakan titik api. Karena itu seluruh informasi tetap harus divalidasi agar penanganannya tepat,” katanya.
Selain pemerintah, perusahaan yang memiliki kawasan konsesi juga diminta memastikan kesiapsiagaan tim penanggulangan kebakaran di wilayah operasional masing-masing. Menurut Buyung, keterlibatan seluruh pihak menjadi faktor penting agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas.
Ia menambahkan, peralatan yang dimiliki BPBD saat ini masih memadai untuk penanganan awal. Namun apabila kebakaran berkembang dalam skala besar atau terjadi di lokasi yang sulit dijangkau, pemerintah akan mengusulkan dukungan tambahan, termasuk opsi modifikasi cuaca.
“Kalau kondisinya memang membutuhkan, bantuan tambahan termasuk modifikasi cuaca bisa diajukan. Tetapi yang paling penting adalah keselamatan petugas saat melakukan penanganan di lapangan,” tegasnya.
BPBD Kaltim berharap seluruh elemen masyarakat tetap waspada selama musim kemarau berlangsung. Langkah pencegahan sejak dini dinilai menjadi cara paling efektif untuk menekan risiko karhutla sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat.









