Metroikn, Samarinda – Memasuki musim kemarau 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan ini disampaikan menyusul meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, menyebut tanda-tanda kemarau sudah mulai terasa sejak akhir Maret. “Berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau datang lebih cepat. Suhu di lapangan juga sudah mulai meningkat,” ujarnya.
Beberapa kejadian kebakaran lahan skala kecil yang terjadi belakangan ini menjadi indikator awal meningkatnya potensi karhutla. Meski masih bisa ditangani, kondisi tersebut dinilai perlu diwaspadai.
Untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar, BPBD telah berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD Provinsi Kalimantan Timur, serta relawan di tingkat kecamatan. “Tim sudah disiagakan di wilayah rawan, dan relawan ikut dilibatkan untuk penanganan awal,” jelas Suwarso.
Ia menambahkan, kendala utama saat pemadaman adalah keterbatasan sumber air di lokasi kejadian. “Kami sering kesulitan air saat pemadaman, jadi keberadaan embung perlu ditambah,” katanya.
BPBD juga menegaskan bahwa pembakaran lahan masih menjadi penyebab utama kebakaran di wilayah pinggiran. “Jangan membuka lahan dengan api. Jika ada tanda kebakaran, segera laporkan agar cepat ditangani,” tegasnya.
Berdasarkan pemetaan, wilayah Palaran, Sambutan, Sungai Kunjang, dan Loa Janan Ilir termasuk daerah rawan karhutla. Selain itu, suhu yang mencapai 34 derajat Celsius juga berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat.
Karena itu, warga diimbau menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, serta menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan. “Kami minta masyarakat tetap waspada dan menjaga kesehatan selama musim kemarau,” tutupnya.









