Metroikn, Sendawar – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan sedikitnya 7.483,38 hektare kawasan di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, sepanjang periode kekeringan 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sebanyak 225 kejadian karhutla melanda Areal Penggunaan Lain (APL), yang mencakup hamparan tanah mineral hingga kubah gambut.
Kecamatan Barong Tongkok menjadi wilayah dengan frekuensi kebakaran tertinggi, yakni 74 kejadian, disusul Kecamatan Damai dengan 59 kejadian. Tingginya jumlah kejadian tersebut menunjukkan luasnya wilayah yang harus menjadi perhatian dalam upaya pengendalian kebakaran, terutama selama periode cuaca kering.
“Namun, luasan kebakaran terparah melanda Kecamatan Jempang dengan akumulasi area hangus mencapai 5.392,43 hektare,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kubar, Yudianto Rihartono, Rabu (4/11/2026).
Menyikapi kejadian tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat memperkuat sarana dan prasarana tanggap darurat dengan menyalurkan paket peralatan pemadam ke 16 kecamatan. Bantuan ini meliputi kendaraan operasional mobil slip-on, motor trail, tandon air berkapasitas 5.000 liter, hingga mesin pompa portabel guna mempercepat pemadaman di lapangan.
Penguatan peralatan tersebut diharapkan dapat membantu petugas menjangkau lokasi kebakaran sekaligus mendukung ketersediaan air selama proses pemadaman. Dengan dukungan sarana di tingkat kecamatan, penanganan diharapkan tidak hanya bergantung pada pengerahan personel dari tingkat kabupaten.
Bupati Kutai Barat Frederick Edwin menegaskan bahwa langkah tersebut diambil agar tim reaksi cepat mampu bertindak sigap sebelum kobaran api meluas ke permukiman dan kawasan tangkapan air.
“Melalui BPBD Kabupaten Kutai Barat, kita telah melaksanakan strategi penanganan darurat yang terintegrasi lintas sektor. Respons cepat kita perkuat via Layanan Darurat 112 sebagai Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops), operasi pemadaman darat terpadu bersama tim gabungan, serta penguatan sarpras di tingkat kecamatan guna memangkas response time di lapangan,” katanya.
Frederick juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berjuang di garis depan pemadaman, mulai dari tim BPBD, personel Kodim 0912/Kubar, Polres Kutai Barat, Brimob Kompi 2, KPHP, Manggala Agni, pemadam kebakaran kecamatan, hingga para relawan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Selain operasi pemadaman terpadu, pemerintah daerah terus mengaktifkan patroli berkala MPA dan menggalakkan edukasi pencegahan agar masyarakat tidak lagi membuka maupun membersihkan lahan perkebunan dengan cara membakar. Upaya ini menjadi bagian penting untuk menekan potensi kebakaran berulang, sehingga penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pencegahan sejak dini. (Adv)









