Troy Pantouw Beberkan Progres dan Konsep Hijau IKN di Seminar Nasional Unmul

IKN20 Dilihat

Metroikn, Samarinda – Isu mengenai pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang disebut mangkrak hingga dianggap merusak hutan mendapat respons langsung dari Otorita IKN dalam forum akademik di Universitas Mulawarman, Samarinda.

Di hadapan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kalimantan Timur, Juru Bicara Otorita IKN, Troy Pantouw, menegaskan pembangunan Nusantara hingga kini terus berjalan dan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.

“Tidak benar kalau ada yang bilang IKN mangkrak. Dan, hari ini saya juga tegaskan bahwa tidak benar kalau IKN merusak hutan. Kita memiliki setiap kedeputian yang bertanggung jawab dalam pembangunan, termasuk pengelolaan hutan,” tegas Troy dalam Seminar Nasional Public Nations 2026 di Gedung Prof. Ir. H. Rachmad Hernadi, M.Sc., Universitas Mulawarman, Sabtu (23/05/2026).

Seminar bertema “IKN Sebagai Tonggak Pemerataan Ekonomi Nasional” itu digelar oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik FISIP Universitas Mulawarman dan diikuti mahasiswa dari berbagai kampus di Kalimantan Timur, di antaranya Universitas Mulawarman, Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, hingga Politeknik Negeri Samarinda.

Diskusi berlangsung dinamis. Mahasiswa menyoroti berbagai isu mulai dari pemerataan pembangunan, pengelolaan lingkungan, hingga pemanfaatan energi bersih di kawasan Nusantara.

Menjawab berbagai pertanyaan tersebut, Troy menjelaskan bahwa Otorita IKN terus membangun budaya baru yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, termasuk melalui kegiatan penanaman pohon dan pemanfaatan energi terbarukan.

“Melalui kebijakan Bapak Kepala Otorita IKN, saat ini kami memiliki gaya hidup baru yaitu menanam pohon langsung oleh Insan Otorita IKN. Kemarin Jumat (22/05/2026), kami juga baru saja melaksanakan kegiatan penanaman pohon, termasuk pohon endemik Kalimantan. Terlebih lagi, di KIPP Nusantara, bangunan-bangunan juga didukung listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) IKN yang berkapasitas hingga sekitar 50 MW,” jawab Troy.

Dalam forum tersebut, perspektif akademik juga mengemuka. Dosen Program Studi Administrasi Publik FISIP Unmul, Wendy Waldianto, menilai kampus memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di IKN melalui penguatan riset dan inovasi.

“Saat ini, terdapat MoU (Memorandum of Understanding) antara Otorita IKN dengan Universitas Mulawarman untuk mendorong inovasi-inovasi untuk keberlanjutan dan penguatan ekosistem di IKN, termasuk melalui peran mahasiswa dalam pembangunan berkelanjutan,” ujar Wendy dalam pemaparannya.

Sementara itu, mahasiswa juga menilai pembangunan IKN menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk mempersiapkan diri menghadapi Indonesia Emas 2045.

“Dengan adanya pembangunan IKN ini, termasuk melalui seminar pada hari ini, kita sebagai generasi muda sekaligus mahasiwa harus mempersiapkan diri menuju Indonesia Emas Tahun 2045. Dari situ, kita bisa melihat dan kita bisa percaya bahwasanya itu akan terjadi,” ujar Anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan HIMANISLIK FISIP Unmul, Nur Nailah.

Di sisi lain, Wakil Dekan I Bidang Akademik FISIP Unmul, Rina Juwita, menegaskan kampus tidak hanya menjadi ruang akademik semata, tetapi juga tempat lahirnya kritik dan gagasan terhadap pembangunan nasional, termasuk IKN.

“Tema yang diangkat hari ini sangat relevan. tentang Ibu Kota Nusantara. Ini bukan semacam pemindahan gedung semata, tetapi adalah pemerataan untuk seluruh warga negara Indonesia. Di sini, kampus itu bukan hanya teori saja, tetapi mengasah rasa kritis, terlebih lagi ini bukan tentang seremonial atau muncul di media sosial saja, tetapi menghadirkan gagasan dan kritik khususnya mahasiswa di Kalimantan Timur”, tutup Rina.

Melalui forum tersebut, seminar tidak hanya menjadi ruang sosialisasi pembangunan IKN, tetapi juga mempertemukan pandangan pemerintah, akademisi, dan mahasiswa dalam membahas arah pembangunan Nusantara ke depan.