Blackout Sumatera Dipastikan Bukan Aksi Sabotase, Ini Hasil Investigasi Awal Polri

METROPOLIS38 Dilihat

Metroikn, Jakarta – Bareskrim Polri memastikan gangguan listrik massal atau blackout yang sempat melanda sejumlah wilayah di Sumatera bukan disebabkan aksi sabotase. Hasil investigasi awal mengarah pada faktor teknis dan cuaca ekstrem yang memicu gangguan sistem transmisi kelistrikan.

Penegasan itu disampaikan dalam konferensi pers bersama PT PLN (Persero), Senin (25/5/2026), terkait pemadaman besar yang terjadi pada Jumat (22/5/2026).

“Sampai dengan saat ini dapat kami pastikan bahwa tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut. Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca ekstrem,” tegas Wakabareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifudin.

Gangguan tersebut sebelumnya berdampak luas terhadap sistem kelistrikan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, hingga sebagian Sumatera Selatan.

Dalam investigasi lapangan yang dilakukan Minggu (24/5/2026), tim gabungan Direktorat Tindak Pidana Tertentu, Direktorat Tindak Pidana Umum, Puslabfor Bareskrim Polri, Ditreskrimsus Polda Jambi, serta PLN melakukan pengecekan di lokasi tower transmisi di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi.

Berdasarkan identifikasi awal, gangguan diduga bermula dari jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai di wilayah Jambi sekitar pukul 18.44 WIB saat kondisi cuaca buruk melanda kawasan tersebut.

“Hasil identifikasi awal diketahui bahwa gangguan pada jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai diduga dipicu faktor cuaca buruk yang mengakibatkan sistem transmisi keluar dari interkoneksi kelistrikan Sumatera,” kata Irjen Pol Nunung.

Akibat gangguan itu, sistem interkoneksi Sumatera mengalami ketidakstabilan frekuensi dan tegangan yang kemudian memicu sejumlah pembangkit listrik trip secara berantai hingga terjadi blackout massal.

Di sisi lain, tim gabungan juga menemukan adanya kabel transmisi yang putus di sekitar tower. Meski demikian, kondisi konstruksi tower disebut masih dalam keadaan baik dan tidak ditemukan kerusakan signifikan.

Menurut Nunung, penyebab putusnya kabel masih didalami melalui pemeriksaan laboratorium forensik. Dugaan sementara mengarah pada faktor mekanis akibat gesekan dan angin, panas karena sambungan longgar yang memicu loncatan listrik, hingga pengaruh tarikan akibat cuaca ekstrem.

Ia menambahkan pola kerusakan kabel yang ditemukan tidak menunjukkan indikasi pemotongan.

“Hasil pemeriksaan awal menunjukkan pola kerusakan kabel berbentuk serabut terurai dan tidak menunjukkan pola potongan rapi yang mengarah pada tindakan sabotase,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra, menjelaskan sistem kelistrikan Sumatera selama ini ditopang dua jalur utama transmisi, yakni koridor timur 500 kV dan koridor barat 275 kV.

Saat gangguan terjadi, jalur transmisi mengalami trip akibat hujan lebat dan angin kencang yang memicu fenomena power swing atau osilasi tegangan dan frekuensi sangat tinggi.

Kondisi tersebut menyebabkan sistem kelistrikan Sumatera terpisah menjadi dua bagian. Wilayah selatan mengalami kelebihan daya, sementara wilayah utara kekurangan pasokan sehingga sejumlah pembangkit mengalami domino effect dan akhirnya padam.

PLN kemudian melakukan pemulihan bertahap melalui mekanisme black start menggunakan pembangkit diesel dan gas sebelum sistem kembali dinormalisasi.

“Seluruh sistem kelistrikan Sumatera telah kembali normal 100 persen dan saat ini beroperasi dengan aman dan stabil,” ujar Edwin.

Dalam kesempatan yang sama, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan konferensi pers dilakukan sebagai bentuk keterbukaan informasi kepada publik terkait insiden blackout yang menjadi perhatian nasional.

“Kami akan menyampaikan beberapa hal yang menjadi perhatian publik, termasuk pemerintah, bersama Polri dan khususnya PT PLN (Persero), terkait terjadinya blackout di wilayah Sumatera Utara,” ujar Trunoyudo.