Menembus Api 1.000 Derajat, Begini Ujian Rescuer di Balik IMERC 2026

METROPOLIS250 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Menembus bangunan yang terbakar bukan sekadar persoalan keberanian. Di balik api yang terlihat dari luar, terdapat ancaman suhu ekstrem, udara beracun, dan risiko runtuhnya struktur bangunan.

Situasi itulah yang diuji dalam kategori Structural Fire Fighting pada Indonesia Mining Emergency Response Community (IMERC) 2026 di Training Ground Garuda Rescue Nusantara (GRN), Balikpapan.

Berbeda dengan kebakaran rumah biasa, structural firefighting menghadapkan petugas pada kondisi bangunan bertingkat dengan sumber bahaya yang lebih kompleks.

Ketua SC IMERC 2026 sekaligus Direktur GRN, dr. David Marty Winowatan, menjelaskan perbedaan utama antara kebakaran biasa dan kebakaran struktural.

“Kalau rumah terbakar, biasanya kita melihat satu bangunan. Tetapi kalau structural firefighting, yang dihadapi adalah struktur bangunan. Bisa bertingkat, sehingga tingkat kesulitannya berbeda,” ujarnya.

Dalam simulasi IMERC 2026, peserta harus menangani gedung yang terbakar dengan sumber api berada di bagian bawah bangunan.

Di dalam bangunan tersebut terdapat korban yang harus dievakuasi dalam kondisi penuh asap dan panas ekstrem.

Menurut David, suhu dalam kebakaran struktural dapat mencapai 600 hingga 1.000 derajat Celcius.

“Semakin lama api tidak dikendalikan, semakin tinggi risikonya. Korban yang awalnya satu bisa bertambah menjadi dua atau tiga karena kondisi semakin berbahaya,” katanya.

Karena itu, proses pemadaman tidak hanya dilakukan dengan menyemprotkan air.

Ada tahapan penting yang harus dilakukan, mulai dari cooling down atau pendinginan bangunan hingga ventilasi untuk mengurangi suhu dan mengeluarkan udara beracun.

“Penyemprotan itu bukan sekadar memadamkan api. Itu untuk menurunkan suhu di dalam bangunan,” jelas David.

Setelah kondisi lebih terkendali, tim harus membuka akses agar udara di dalam bangunan dapat berganti.

Sebab, udara dalam ruang terbakar tidak dapat dihirup manusia secara normal.

“Karena itu mereka menggunakan SCBA (Self Contained Breathing Apparatus). Ini alat bantu pernapasan yang wajib digunakan saat masuk ke area seperti itu,” ujarnya.

Dalam operasi kebakaran, David juga mengingatkan bahwa keselamatan rescuer memiliki urutan prioritas.

“Prioritas pertama adalah diri sendiri, kedua rekan kerja, ketiga korban, dan terakhir lingkungan. Kalau rescuer menjadi korban, maka tidak ada yang bisa melakukan penyelamatan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Juri Structural Fire Fighting IMERC 2026, Hanny Runtuwene, mengatakan simulasi dibuat menyerupai kondisi lapangan sebenarnya.

Dalam skenario yang diberikan, peserta harus memadamkan api, menyelamatkan dua korban yang berada dalam bangunan, serta mengevakuasi anggota tim yang mengalami kelelahan saat operasi.

“Jadi ada tiga aktivitas utama. Pertama memadamkan api, kedua menyelamatkan korban, dan ketiga menyelamatkan anggota tim sendiri,” ujar Hanny.

Setiap tim terdiri dari tujuh personel, enam anggota dan satu kapten yang bertugas mengendalikan komunikasi serta strategi operasi.

Menurut Hanny, penilaian tidak hanya berdasarkan siapa yang paling cepat menyelesaikan misi.

“Kalau waktunya cepat tetapi banyak prosedur yang tidak dilakukan, nilainya tidak maksimal. Yang utama adalah semua tahapan dilakukan dengan benar,” katanya.

Selain kemampuan personel, perlengkapan juga menjadi perhatian utama.

David bahkan melakukan pemeriksaan langsung terhadap perlengkapan pelindung diri peserta untuk memastikan standar keselamatan terpenuhi.

Ia menemukan beberapa perlengkapan yang belum sesuai standar operasi kebakaran struktural.

“Untuk latihan mungkin masih bisa digunakan. Tetapi untuk menghadapi kebakaran gedung sebenarnya, perlengkapan harus benar-benar sesuai standar internasional,” ujarnya.

Melalui kategori Structural Fire Fighting di IMERC 2026, para rescuer tidak hanya diuji kemampuan memadamkan api, tetapi juga dipersiapkan menghadapi situasi nyata ketika satu keputusan dapat menentukan keselamatan banyak orang.