Metroikn, Paser – Produk ecoprint, jahe merah, madu kelulut hingga olahan pangan menjadi potensi ekonomi yang terus dikembangkan masyarakat Desa Saing Prupuk, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Di saat yang sama, desa tersebut juga tengah mengembangkan Riam Batu Padas sebagai destinasi wisata. Dua potensi itu kini didorong berjalan beriringan agar aktivitas wisata ikut membuka ruang pemasaran bagi produk UMKM lokal.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui program Desa Berdaya Saing Prupuk yang memasuki tahun ketiga pada 2026. Program yang dijalankan PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (UIP KLT) melalui Unit Pelaksana Proyek Kalimantan Bagian Timur 1 (UPP KLT 1) itu diarahkan pada penguatan UMKM dan pengembangan wisata desa.
Pendampingan UMKM tidak hanya berupa bantuan sarana usaha. Sepanjang 2026, pelaku usaha juga mendapat pelatihan mengenai identitas merek, foto produk hingga pembuatan konten promosi digital.
Sekitar 20 pelaku UMKM mengikuti Pelatihan Branding UMKM bertajuk “Menemukan Identitas dan Karakter Usaha” pada 4 Juni 2026. Peserta kemudian mengikuti pelatihan foto produk pada 24 Juni dan pelatihan pembuatan konten promosi digital pada 23 Juli 2026.
Materi tersebut diarahkan agar pelaku UMKM mampu mengenali karakter produknya, menghasilkan foto yang lebih menarik menggunakan perangkat yang dimiliki, serta memanfaatkan media digital untuk memperluas pemasaran.
Senior Manager Perizinan, Pertanahan dan Komunikasi PLN UIP KLT, Raditya Kuntoro, mengatakan pengembangan ekonomi desa tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan sarana.
“Kami ingin program TJSL PLN hadir tidak hanya dalam bentuk bantuan, tetapi menjadi proses pemberdayaan yang tumbuh bersama masyarakat. Di Desa Saing Prupuk, kami melihat potensi UMKM lokal dan Wisata Riam Batu Padas dapat dikembangkan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan,” ujar Raditya.
Selain UMKM, pengembangan Riam Batu Padas juga terus dilakukan sejak Juni 2026. Sejumlah sarana pendukung mulai dibangun secara bertahap, antara lain jalan beton, area parkir, papan nama dan imbauan, portal, fasilitas kebersihan serta gerbang wisata.
Pengembangan kawasan wisata tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Ketika kunjungan wisata berkembang, produk UMKM masyarakat dapat ikut memperoleh ruang pemasaran melalui kawasan wisata tersebut.
“Ketika UMKM semakin berkembang dan potensi wisata semakin dikenal, kami berharap peluang ekonomi bagi masyarakat juga semakin terbuka,” kata Raditya.
Program Desa Berdaya Saing Prupuk sendiri telah berjalan sejak 2024. Pada tahap awal, dukungan diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Program berlanjut pada 2025 dengan penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pengembangan UMKM serta identifikasi potensi wisata desa.
Memasuki 2026, dukungan diperluas melalui pemberian sarana pendukung usaha, pelatihan dan pendampingan UMKM serta pembangunan fasilitas pendukung Riam Batu Padas.
Raditya mengatakan peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting agar sarana yang dibangun dapat terus dimanfaatkan setelah program selesai.
“Karena itu, selain pembangunan sarana, kami memberikan perhatian pada peningkatan kompetensi masyarakat. Mulai dari bagaimana UMKM membangun karakter usahanya, menghasilkan foto produk yang menarik, hingga memanfaatkan konten digital untuk promosi,” ujarnya.
Dengan potensi UMKM dan wisata yang dikembangkan bersamaan, Desa Saing Prupuk diarahkan memiliki ekosistem ekonomi yang saling terhubung. Produk masyarakat dapat menjadi bagian dari daya tarik desa, sementara berkembangnya wisata membuka peluang pasar baru bagi pelaku usaha lokal.









