Belajar dari Tragedi di Ruang Sempit, IMERC 2026 Uji Nyali Rescuer Selamatkan Korban

METROPOLIS192 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Ruang sempit di dalam kapal tongkang menjadi salah satu lokasi kerja yang menyimpan risiko tinggi. Minim oksigen, potensi gas berbahaya, ruang gerak terbatas, serta sulitnya proses evakuasi membuat kesalahan kecil dapat berujung fatal.

Risiko itulah yang diangkat dalam kategori Confined Space Rescue pada Indonesia Mining Emergency Response Community (IMERC) 2026 di Training Ground Garuda Rescue Nusantara (GRN), Balikpapan, Jumat (7/8/2026).

Dalam simulasi tersebut, peserta menghadapi skenario kecelakaan yang menyerupai kondisi di area kapal tongkang. Tim rescue dituntut melakukan penyelamatan korban dari ruang terbatas dengan tetap mengutamakan keselamatan personel yang masuk ke area berbahaya.

Bukan sekadar mengeluarkan korban, peserta harus menjalankan tahapan penyelamatan secara disiplin, mulai dari memastikan kondisi ruang, mengecek faktor keselamatan, membangun komunikasi antara tim di dalam dan luar area, hingga melakukan evakuasi menggunakan teknik yang tepat.

Ketua Steering Committee (SC) IMERC 2026 sekaligus Direktur Garuda Rescue Nusantara, dr. David Marty Winowatan, mengatakan skenario dalam IMERC tidak dibuat hanya berdasarkan teori, tetapi mengambil pembelajaran dari berbagai kejadian nyata di dunia industri.

“Dalam rescue, kita tidak membuat skenario berdasarkan teori saja. Banyak kasus berasal dari kejadian nyata yang pernah terjadi di lapangan,” ujar David.

Menurut dia, kecelakaan di ruang terbatas memiliki karakteristik berbeda dibanding insiden lainnya. Area yang sempit membuat proses penyelamatan menjadi lebih kompleks karena rescuer menghadapi ancaman yang sama dengan korban.

“Jangan sampai niat awalnya menyelamatkan korban, tetapi karena prosedurnya tidak benar, penolong ikut menjadi korban,” katanya.

Dalam operasi confined space rescue, kemampuan teknis harus berjalan bersama dengan pengambilan keputusan yang tepat. Sebelum masuk, rescuer harus memahami kondisi atmosfer ruang, ketersediaan udara, jalur evakuasi, hingga metode penyelamatan yang akan digunakan.

David mengatakan seorang rescuer tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk masuk ke lokasi berbahaya.

“Rescuer bukan orang yang hanya berani masuk. Rescuer harus tahu kapan masuk, bagaimana masuk, dan bagaimana keluar dengan aman,” ujarnya.

Selain teknik penyelamatan, komunikasi menjadi faktor penting dalam operasi ruang terbatas. Tim yang berada di luar harus terus memantau kondisi personel yang melakukan evakuasi di dalam, termasuk memastikan waktu operasi dan kondisi udara tetap aman.

Melalui kategori Confined Space Rescue, IMERC 2026 ingin memberikan pengalaman yang mendekati kondisi lapangan sebenarnya, khususnya bagi industri yang memiliki risiko pekerjaan di ruang terbatas seperti pertambangan, energi, konstruksi, dan maritim.

Bagi David, nilai utama dari simulasi tersebut bukan sekadar menyelesaikan tantangan, tetapi membangun kesiapan menghadapi kejadian sebenarnya.

“Tujuannya bukan hanya memenangkan tantangan, tetapi memastikan ketika kejadian sebenarnya terjadi, mereka sudah memiliki kemampuan dan pengalaman yang tepat,” katanya.

Simulasi berbasis skenario kecelakaan di kapal tongkang tersebut menjadi pengingat bahwa di balik setiap operasi penyelamatan, terdapat prosedur, disiplin, dan kemampuan yang menentukan keselamatan korban maupun rescuer.