Karhutla Mengancam Delineasi IKN, Titik Api Terdekat Masih 30–40 Km dari KIPP

IKN59 Dilihat

Metroikn, Nusantara – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah titik dalam delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, Otorita IKN menyebut titik kebakaran terdekat saat ini berjarak sekitar 30–40 kilometer dari Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Penanganan karhutla terus dilakukan melalui pemadaman dari darat dan udara untuk mencegah api meluas. Sejumlah titik yang sebelumnya menjadi perhatian juga dilaporkan telah jauh berkurang.

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen Kebijakan dan Strategi Konstruksi, Danis H. Sumadilaga, mengatakan lokasi karhutla tersebut memang masih berada dalam delineasi IKN, tetapi secara geografis cukup jauh dari kawasan inti pemerintahan.

“Jarak titik yang paling dekat dengan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN sekitar 30–40 kilometer. Memang masih masuk dalam delineasi IKN, tetapi secara jarak cukup jauh dari kawasan inti,” ujar Danis di Lanud Dhomber, Balikpapan, Selasa (8/9/2026).

Karena itu, penanganan tetap dilakukan sejak awal untuk mencegah titik api berkembang dan menjalar ke wilayah lain.

“Jadi, apa yang kita lakukan ini betul-betul merupakan tindakan preventif. Jangan sampai kebakaran tersebut berkembang menjadi lebih jauh,” katanya.

Danis juga meluruskan informasi mengenai luas area terdampak karhutla yang mencapai 458 hektare. Angka tersebut tidak berarti seluruh luasan terbakar.

“458 hektare itu adalah area yang terdampak. Di area tersebut ada titik-titik yang terbakar, jadi tidak seluruhnya terbakar. Yang terbakar sebenarnya kurang dari itu karena merupakan titik-titik api,” jelasnya.

Dalam beberapa hari terakhir, jumlah titik api di sejumlah lokasi disebut telah menurun. Dua wilayah yang masih menjadi perhatian utama berada di Bukit Tengkorak dan Wonotirto.

Pada Selasa pagi, tim kembali menemukan titik api di sekitar Tol Balikpapan-Samarinda Kilometer 31. Titik tersebut langsung ditangani tim gabungan yang melibatkan Otorita IKN, TNI, Polri, dan Jasa Marga.

Penanganan juga dilakukan dari udara menggunakan water bombing oleh TNI Angkatan Udara.

Pemadaman dari darat dilakukan Otorita IKN bersama TNI, Polri, Babinsa, masyarakat, serta pihak terkait lainnya. Tim menyasar titik yang dapat dijangkau melalui jalur darat, sekaligus melakukan patroli untuk mendeteksi kemunculan api baru.

Sementara itu, pemadaman dari udara digunakan untuk menjangkau kawasan yang sulit diakses melalui jalur darat. Dukungan diberikan BNPB, TNI, dan BMKG, termasuk untuk penanganan di kawasan Bukit Tengkorak dan sejumlah titik di Bukit Merdeka.

“Terutama di area-area yang tidak bisa dicapai melalui jalur darat. Misalnya di daerah Bukit Tengkorak, ada beberapa area yang hanya bisa dicapai dengan water bombing. Kemudian di beberapa titik di Bukit Merdeka juga kita lakukan water bombing,” ujar Danis.

Meski jumlah titik api menurun, patroli dan pemantauan tetap dilanjutkan. Tim darat bersama TNI dan Polri disiagakan untuk mendeteksi sekaligus menangani apabila muncul titik api baru.

“Kalaupun timbul, dapat segera ditangani secepatnya sebelum meluas,” katanya.

Pemantauan dari udara juga tetap dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi di lapangan dan memastikan api tidak kembali meluas.

“Tim darat akan tetap melakukan patroli dan penanganan. Kemudian dari udara juga tetap kita siagakan untuk melihat perkembangannya, agar memastikan kebakaran tidak meluas. Ini juga sesuai dengan perintah Presiden agar persoalan ini ditangani secepatnya,” ujarnya.

Selain pemadaman, Otorita IKN memperkuat pencegahan dengan mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan menggunakan metode pembakaran.

Danis mengatakan edukasi tersebut juga telah diperkuat melalui Peraturan Kepala Otorita IKN mengenai pembukaan lahan tanpa membakar.

“Jangan sampai proses pembukaan lahan dilakukan dengan cara membakar. Ini yang harus kita hindari,” tegasnya.