Eco-Edu Forest Hadir di IKN, PAMA Kolaborasi dengan UGM dan OIKN Dorong Model Konservasi Berkelanjutan

IKN, METROPOLIS45 Dilihat

metroikn, NUSANTARA – Upaya memperkuat ekosistem hutan dan konservasi satwa di Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali diperkuat melalui pelepasliaran 12 ekor rusa sambar (Cervus unicolor) di kawasan Wanagama Nusantara.

Program ini menjadi bagian dari peluncuran PAMA Eco-Edu Forest, kolaborasi multipihak antara PT Pamapersada Nusantara (PAMA), Otorita IKN, Kementerian Kehutanan, dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kegiatan diawali penampilan tari khas Kalimantan oleh siswa binaan PAMA dari SMK Negeri 1 Balikpapan, kemudian dilanjutkan pelepasliaran rusa dan penanaman pohon endemik Kalimantan. Rangkaian ini menjadi simbol dimulainya program eco-edu forest yang memadukan konservasi satwa, restorasi hutan, dan pendidikan lingkungan.

Direktur PAMA Abdul Nasir Maksum menjelaskan bahwa Eco-Edu Forest dirancang sebagai ruang riset, edukasi, dan restorasi ekosistem berbasis kolaborasi. “Kami ingin hutan menjadi laboratorium alam yang hidup, tempat tumbuh pengetahuan, inovasi, dan kesadaran ekologis,” ungkap Nasir.

Sementara, Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menyebut pelepasliaran rusa dan pengembangan eco-edu forest sebagai langkah penting menuju kota hutan berstandar dunia.

“Saya sangat apresiasi dukungan PAMA, UGM, dan Kementerian Kehutanan. Jika kawasan ini berkembang seperti Wanagama Gunungkidul, Nusantara bisa menjadi destinasi ekowisata berbasis pendidikan,” ujar Basuki.

Adapun Dirjen KSDAE KLHK Satyawan Pudyatmoko menegaskan dukungan kementerian dalam memastikan keberlanjutan konservasi di IKN, termasuk pemetaan area bernilai konservasi tinggi hingga pembentukan wildlife rescue unit khusus.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM Sigit Sunarta menambahkan bahwa kerja sama ini menjadi model ideal kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha. “Pendekatan ilmiah dan restorasi ekologis sangat penting untuk memastikan keberlanjutan kawasan hutan,” ucapnya.

PAMA Eco-Edu Forest dikembangkan di atas lahan sekitar 100 hektare di Wanagama Nusantara. Kawasan ini akan mencakup: pusat konservasi dan penangkaran satwa termasuk rusa sambar, area riset dan edukasi lingkungan, program enrichment planting dengan jenis pohon lokal seperti meranti dan durian, fasilitas pendukung seperti kantor pengelola dan pusat informasi.

Program ini juga membuka kesempatan bagi masyarakat ikut terlibat melalui kegiatan volunteer dan riset lapangan, sehingga konservasi dapat berjalan secara inklusif.