Metroikn, Sendawar – Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Barat pada Semester I 2026 tercatat sebesar 3,83 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Pertumbuhan tersebut ditopang sektor non-tambang, seperti pertanian, transportasi, perdagangan, serta perhotelan dan kuliner.
Sebaliknya, sektor pertambangan yang memiliki porsi dominan sebesar 40,77 persen dalam struktur perekonomian daerah justru melambat dan hanya tumbuh 1,25 persen pada Triwulan II 2026.
Perlambatan sektor ekstraktif ini disebut dipicu kebijakan pengetatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor batu bara yang diberlakukan pemerintah pusat.
Kondisi tersebut memperlihatkan kerentanan fiskal dan stabilitas ekonomi daerah yang masih bertumpu pada komoditas batu bara dan perkebunan kelapa sawit mentah (CPO). Kedua komoditas primer tersebut bergantung pada dinamika pasar serta rantai pasok global yang berada di luar kendali pemerintah daerah.
Bupati Kutai Barat Frederick Edwin menyatakan, tekanan eksternal dan regulasi pemerintah pusat menjadi dorongan untuk mempercepat diversifikasi ekonomi menuju sektor yang lebih berkelanjutan.
Menurutnya, struktur ekonomi Kutai Barat masih sangat ditopang sektor ekstraktif, terutama pertambangan batu bara dan perkebunan sawit. Komoditas tersebut bergantung pada kondisi geopolitik global.
“Sektor pertambangan yang menyumbang 40,77 persen pada angka PDB hanya bertumbuh sebesar 1,25 persen pada Triwulan II tahun 2026 imbas kebijakan RKAB dari pemerintah pusat,” papar Frederick Edwin saat menyampaikan pidato kinerjanya pada HUT ke-27 Kutai Barat di Sendawar, Rabu (4/11/2026).
Selain pembatasan kuota tambang, perekonomian daerah juga menghadapi tantangan berupa penurunan nilai investasi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah daerah turut melakukan penyesuaian belanja akibat kenaikan harga bahan bakar minyak pada semester awal 2026.
Situasi tersebut dinilai turut menekan daya beli masyarakat. Sementara itu, inflasi daerah tercatat sebesar 3,98 persen, dengan target penurunan bertahap menjadi 3,4 persen pada 2027.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap industri ekstraktif, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat mendorong transformasi ekonomi melalui pengembangan sektor-sektor alternatif.
Strategi tersebut diwujudkan melalui penguatan hilirisasi pasir silika, pengembangan komoditas perkebunan karet, kopi, kakao, dan lada, serta industri oleopangan dan oleokimia. Pemkab Kubar juga mendorong pemanfaatan bioavtur dan panel surya, pengembangan pariwisata berkelanjutan, hingga industri obat herbal lokal. (Adv)









