1.000 Mangrove Ditanam di Kariangau, Siapa yang Menjaga Setelah Setahun?

METROPOLIS50 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Menanam 1.000 bibit mangrove di pesisir Kariangau, Balikpapan Barat, bukan akhir dari upaya pemulihan lingkungan. Tantangan berikutnya justru memastikan bibit tersebut mampu bertahan hidup dan tumbuh. Untuk itu, Karang Taruna Nusantara Maju bersama PT Interport Mandiri Utama menyiapkan dukungan perawatan selama satu tahun ke depan.

Penanaman dilakukan di kawasan Pemancingan Kampung Nelayan Berdasi, RT 3, Kelurahan Kariangau, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari Bulan Bakti Karang Taruna 2026 sekaligus peringatan hari lahir Karang Taruna ke-66.

Ketua Karang Taruna Nusantara Maju Kelurahan Kariangau, Apriyanto, mengatakan penanaman ulang dilakukan karena sebagian mangrove di kawasan pesisir setempat telah mati. Namun, penyebab kematian tanaman tersebut belum diketahui secara pasti.

“Kondisi lingkungan sendiri memang kawasan pesisir kami di sini banyak juga mangrove yang sudah mati. Kita tidak tahu matinya karena apa. Menyadari itu, kita mencoba untuk rehabilitasi lagi dengan melakukan penanaman ulang,” kata Apriyanto.

Kondisi tersebut menjadi alasan penanaman kembali dilakukan. Akan tetapi, keberhasilan rehabilitasi tidak cukup diukur dari banyaknya bibit yang masuk ke tanah. Tanaman yang baru ditanam masih membutuhkan perawatan agar dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan pesisir.

Bibit yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan jenis Rhizophora mucronata. Kelompok nelayan setempat juga mengembangkan pembibitan mangrove secara mandiri, salah satunya dengan memanfaatkan barang bekas.

Rusli (51), Ketua Nelayan Sumber Bahagia, mengatakan kelompoknya menggunakan botol air mineral bekas sebagai wadah pembibitan.

“Kita kumpulin botol bekas air mineral seperti itu, dipotong jadi dua. Itu wadahnya,” kata Rusli.

Pemanfaatan botol bekas tersebut memungkinkan barang yang berpotensi menjadi sampah digunakan kembali, sekaligus mengurangi kebutuhan membeli polibag plastik baru.

Rusli juga menjelaskan alasan kelompoknya memilih jenis mangrove yang ditanam. Menurut dia, Rhizophora mucronata memiliki karakteristik yang mendukung pengembangan bibit secara berkelanjutan.

“Kelebihannya ini, sepanjang tahun dia berbuah dan cepat berbuah. Kalau jenis yang lain, rata-rata setahun sekali,” ungkapnya.

Meski bibit dapat dikembangkan, penanganan setelah penanaman tetap menjadi pekerjaan penting. Karang Taruna dan Interport menyiapkan dukungan perawatan pada tahun pertama, disertai pemantauan untuk melihat perkembangan tanaman.

“Untuk skema perawatan sendiri selama satu tahun ke depan kita disupport sama Interport dan akan melihat perkembangannya di tahun yang akan mendatang. Dan jika ada yang dibutuhkan kembali akan kita ajukan kembali,” ujar Apriyanto.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut program. Hasil pemantauan selama satu tahun diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui kondisi bibit dan kebutuhan perawatan berikutnya.

Karang Taruna Kariangau juga berencana melanjutkan penanaman setiap tahun apabila lahan masih tersedia. Dengan demikian, program rehabilitasi diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi upaya pemulihan pesisir yang berkelanjutan.

Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kota Balikpapan, Adwar Skenda Putra, yang mewakili pemerintah kota, turut mengingatkan pentingnya perawatan setelah penanaman.

“Bibit yang ditanam harus dirawat dan dipantau pertumbuhannya agar dapat berkembang dengan baik,” kata Adwar.

Ia menilai pembangunan ekonomi di Balikpapan perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan. Menurut dia, tantangan perubahan iklim, termasuk musim kemarau yang lebih panjang dan peningkatan suhu bumi, membutuhkan kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Jangan menjadi generasi yang pasif, yang hanya menjadi penonton di tengah perubahan iklim dan tantangan lingkungan global,” ujarnya.

Penanaman 1.000 mangrove di Kariangau menjadi langkah awal rehabilitasi yang melibatkan pemuda, masyarakat, perusahaan, dan pemerintah. Namun, keberhasilan program baru dapat dinilai melalui perkembangan tanaman setelah ditanam, tingkat kelangsungan hidup bibit, serta konsistensi perawatan.

Satu tahun dukungan menjadi tahap awal untuk mengawal pertumbuhan mangrove. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan pemantauan dan perawatan tetap berjalan setelah periode tersebut berakhir, agar penanaman benar-benar memberi manfaat bagi ekosistem pesisir Kariangau.