Mangrove Kariangau Banyak Berubah, Karang Taruna dan Interport Mulai Rehabilitasi

METROPOLIS50 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Pesisir Kariangau, Balikpapan Barat, mengalami perubahan yang dirasakan masyarakat nelayan. Kawasan yang dahulu banyak ditumbuhi mangrove kini berubah, sementara upaya pemulihan lingkungan dinilai belum sebanding dengan kerusakan yang terjadi. Sebanyak 1.000 bibit mangrove kini ditanam untuk mendukung rehabilitasi kawasan pesisir.

Rusli (51), Ketua Nelayan Sumber Bahagia, mengatakan perubahan itu terlihat di kawasan yang selama ini menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat pesisir.

“Yang dulunya memang sebagian besar ditumbuhi tanaman mangrove, berubah,” kata Rusli saat ditemui di Kampung Nelayan Berdasi, Kelurahan Kariangau, Kamis (22/10/2026).

Menurut Rusli, kebutuhan lahan untuk industri, perubahan iklim, dan aktivitas manusia merupakan sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kelestarian pesisir. Ia juga menilai upaya perbaikan lingkungan belum sebanding dengan kerusakan yang terjadi.

“Kalau kita bilang tingkat kerusakan dibandingkan perbaikan, itu tidak berimbang,” ujarnya.

Perubahan kondisi pesisir menjadi perhatian warga yang menggantungkan penghasilan pada sumber daya laut. Kelompok nelayan yang dipimpin Rusli tidak hanya mengandalkan penangkapan ikan, tetapi juga mengembangkan budidaya bandeng dan usaha pemancingan.

Kelompok Nelayan Sumber Bahagia mengelola area budidaya sekitar 40.000 meter persegi. Mereka juga melakukan pembibitan mangrove dengan memanfaatkan botol air mineral bekas sebagai wadah, salah satunya untuk mengurangi penggunaan plastik baru.

Bagi masyarakat pesisir, mangrove bukan sekadar tanaman di tepi laut. Keberadaannya berkaitan dengan ekosistem yang mendukung kehidupan di kawasan pantai. Karena itu, perubahan kondisi mangrove menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.

Di tengah kondisi tersebut, penanaman 1.000 bibit mangrove digelar di kawasan Pemancingan Kampung Nelayan Berdasi, RT 3, Kelurahan Kariangau. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Karang Taruna Nusantara Maju Kelurahan Kariangau dengan PT Interport Mandiri Utama, sekaligus bagian dari Bulan Bakti Karang Taruna 2026 dan peringatan hari lahir Karang Taruna ke-66.

Ketua Karang Taruna Nusantara Maju Kelurahan Kariangau, Apriyanto, mengatakan penanaman tersebut menjadi langkah awal organisasinya menjalin kolaborasi dengan perusahaan untuk mendukung rehabilitasi pesisir.

Menurut Apriyanto, di kawasan Kariangau masih ditemukan mangrove yang mati. Penyebabnya belum diketahui secara pasti. Kondisi itu mendorong Karang Taruna melakukan penanaman kembali sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian kawasan.

Namun, pekerjaan tidak berhenti setelah bibit ditanam. Perawatan dan pemantauan diperlukan agar tanaman dapat bertahan dan tumbuh.

“Kami menyadari bahwa kegiatan ini mungkin terlihat sederhana jika hanya dinilai dari jumlah bibit yang ditanam. Namun, kami percaya bahwa langkah kecil yang dilakukan bersama-sama dapat memberikan manfaat besar apabila dijaga dan dilanjutkan secara konsisten,” kata Apriyanto.

Bibit yang ditanam merupakan jenis Rhizophora mucronata. Apriyanto mengatakan Karang Taruna berencana melanjutkan penanaman setiap tahun apabila lahan masih tersedia. Untuk tahap awal, Interport akan mendukung perawatan bibit selama satu tahun ke depan.

Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kota Balikpapan, Adwar Skenda Putra, yang mewakili pemerintah kota, turut mengingatkan pentingnya perawatan setelah penanaman.

“Bibit yang ditanam harus dirawat dan dipantau pertumbuhannya agar dapat berkembang dengan baik,” kata Adwar dalam sambutannya.

Ia menilai upaya menjaga kelestarian lingkungan perlu berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi. Keberhasilan rehabilitasi pesisir, menurut dia, harus terlihat dari manfaat nyata bagi ekosistem dan masyarakat sekitar.

Dari pihak perusahaan, Division Head CSA, Marketing & MBN Operation Director PT Interport Mandiri Utama, Wien Goerindro, mengatakan kegiatan penanaman mangrove merupakan bagian dari perhatian perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

“Keberhasilan perusahaan tidak hanya sebatas dari bisnis semata, tetapi ESG dan CSR menjadi salah satu parameter,” kata Wien.

Ia berharap penanaman tersebut tidak hanya menambah vegetasi di kawasan pesisir, tetapi juga mendukung terbentuknya ekosistem yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Tidak hanya sekadar pohon, tetapi ekosistem yang di bawahnya akan mencoba untuk hidup dan bermanfaat buat masyarakat, terutama masyarakat pesisir Kota Balikpapan,” ujarnya.

Penanaman 1.000 bibit mangrove di Kariangau menjadi langkah awal rehabilitasi yang melibatkan masyarakat dan perusahaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan bibit dapat bertahan hidup, tumbuh, dan memberikan manfaat bagi lingkungan pesisir dalam jangka panjang.