94 Tim Adu UAV di IKN, ITS Keluar sebagai Juara Umum KRTI 2026

IKN27 Dilihat

Metroikn, Nusantara – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) keluar sebagai juara umum Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN). ITS membawa pulang piala bergilir Danadyaksa Dirgantara setelah bersaing dengan 94 tim mahasiswa dari 43 perguruan tinggi.

Piala juara umum diserahkan dalam closing ceremony dan awarding KRTI 2026 di IKN, Jumat (25/9/2026) malam.

Penyerahan dilakukan Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono bersama Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Beny Bandanadjaja, Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Agus Rubiyanto, serta Koordinator Dewan Juri Mona Arif Muda.

KRTI 2026 berlangsung selama lima hari, 21 hingga 25 September 2026. Para peserta menguji kemampuan merancang dan mengoperasikan wahana udara nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dalam lima divisi.

Kelima divisi tersebut yakni Racing Plane, Fixed Wing, Vertical Take Off Landing (VTOL), Long Endurance Low Altitude (LELA), dan Technology Development.

Persaingan tidak hanya menguji kemampuan menerbangkan pesawat tanpa awak. Desain, strategi, pengembangan teknologi, kerja tim hingga kemampuan beradaptasi dengan kondisi lapangan juga menjadi bagian dari kompetisi.

ITS meraih kemenangan melalui tim BAYUCARAKA ITS yang menjadi juara pertama pada divisi Fixed Wing dan LELA. Tim yang sama juga meraih Juara Harapan 1 pada divisi Technology Development.

Sementara itu, gelar juara pertama di tiga divisi lainnya diraih kampus berbeda. Universitas Sebelas Maret menjadi juara Racing Plane melalui tim Narash BUV, Universitas Diponegoro menang di VTOL melalui Jentayu Copter, sedangkan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya menjadi juara Technology Development lewat EFRISA TEAM.

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengapresiasi penyelenggaraan KRTI 2026 di Nusantara.

“Atas nama Otorita IKN, terima kasih semuanya sudah mengadakan acara kompetisi ini di IKN. Terima kasih Pak Rektor ITK dan terima kasih Pak Direktur Belmawa, semuanya saya kira happy, terima kasih sekali lagi atas acara ini dan mohon maaf apabila dalam penerimaan kami ada yang kurang berkenan semoga kita ketemu lagi di KRTI 2027 somewhere, terima kasih semuanya hebat! Indonesia hebat! mahasiswa Indonesia, mahasiswa Indonesia hebat! Mahasiswa Indonesia hebat, I love you all,” ujar Basuki.

Rektor ITK Agus Rubiyanto mengatakan KRTI tidak hanya menjadi ajang perebutan trofi, tetapi juga tempat mahasiswa menguji gagasan dan penerapan teknologi.

“KRTI ini bukan hanya sekedar kompetisi biasa untuk memperebutkan trofi kejuaraan, tetapi sarana pengujian gagasan dan aplikasi. Kalau kita lihat dari awal pertama, Bapak dan Ibu sekalian kemarin kita melihat betapa luar biasanya adik-adik kita. Mulai dari teknologi development, lalu race plane gitu ya, fixed wing, kemudian VTOL, LELA, alhamdulillah saya bisa mengikuti Semua kegiatan yang ada,” ujarnya.

Menurut Agus, pengembangan teknologi UAV berkaitan dengan kebutuhan teknologi dalam pembangunan IKN sebagai kota cerdas, hijau, dan berkelanjutan.

“Tentu saja hal ini berkorelasi dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara yang tepat di sini dengan konsep smart, green dan sustainable city. Dalam mewujudkan kota masa depan, memang dibutuhkan penguasaan teknologi penerbangan tanpa awak oleh sebab itu, peran adik-adik di sini sangat krusial sekali. Maka selama ini kalau kita belum pernah ke Ibu Kota Nusantara beritanya itu simpang siur,” jelas Agus.

Ia berharap pengalaman mahasiswa selama mengikuti KRTI di IKN dapat dibawa kembali ke kampus masing-masing.

“Tapi begitu kita melihat di sini betapa luar biasanya ibu kota Nusantara. Harapan kami, nanti adek-adek dengan membawa semangat inovasi. Semangat-smart dan forest city-nya IKN ini dibawa ke rumah masing-masing,” lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek Beny Bandanadjaja mengatakan KRTI menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan di luar kondisi ideal saat merancang teknologi di kampus.

“KRTI bukan tentang siapa yang menjadi pemenang, kompetisi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar memecahkan masalah menguji gagasan, bekerja dalam tim, mengambil keputusan dan menghadapi berbagai kondisi yang tidak selalu sesuai dengan rencana. Artinya situasi ketika adik-adik mahasiswa merancang di kampus dengan kondisi lapangan di IKN itu tentunya sesuatu yang berbeda,” ujar Beny.

Beny juga mendorong agar teknologi yang dikembangkan mahasiswa tidak berhenti setelah kompetisi selesai.

“Kemudian yang tidak kalah penting, kita berharap semoga seluruh teknologi yang dikembangkan dalam KRTI ini itu bisa diteruskan. Tidak hanya dilaksanakan pada hari ini,” ungkapnya.

Menurut Beny, pengembangan teknologi tersebut sejalan dengan konsep kampus berdampak yang mendorong mahasiswa membawa pengetahuan dan keterampilan untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat.

“Semangat itu terus kita dorong melalui semangat kampus berdampak. Artinya bagaimana mahasiswa bisa hadir untuk di bisa menyelesaikan permasalahan di masyarakat. Tidak hanya ditujukan melalui prestasi atau juara di arena kompetisi, tetapi juga melalui kemampuan bagaimana pengetahuan dan keterampilan serta teknologi tersebut dapat dibawa ke masyarakat, itulah juara yang sesungguhnya bagaimana hasil yang kita peroleh itu bisa bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

Selain ITS, sejumlah perguruan tinggi juga membawa pulang penghargaan dari lima divisi KRTI 2026.

Pada Racing Plane, Universitas Sebelas Maret menjadi juara pertama, disusul Universitas Andalas dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Di Fixed Wing, ITS menjadi juara pertama, diikuti Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Surabaya.

Divisi VTOL dimenangi Universitas Diponegoro, dengan Institut Teknologi Bandung dan Universitas Ahmad Dahlan berada di posisi berikutnya.

Pada LELA, ITS kembali menjadi juara pertama. Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada menyusul sebagai juara kedua dan ketiga.

Sementara Technology Development dimenangi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, disusul Universitas Brawijaya dan Universitas Sebelas Maret.

KRTI 2026 menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi penerbangan tanpa awak. Penyelenggaraan di IKN juga mempertemukan teknologi yang dirancang di kampus dengan kondisi lapangan secara langsung di kawasan Nusantara.