BI Catat Penjualan Rumah Baru di Balikpapan Masih Anjlok 50,66%

EKOBIS21 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Harga rumah baru di Balikpapan memang masih naik, tapi pembelinya belum ramai. Bank Indonesia mencatat penjualan rumah pada triwulan II 2026 masih anjlok 50,66% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Dalam Survei Harga Properti Residensial (SHPR), Bank Indonesia Balikpapan mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan II 2026 tumbuh 1,19% secara tahunan (year on year/yoy).

Kenaikan harga tersebut justru melambat dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 1,44% yoy.

Sementara dari sisi penjualan, ada sedikit perbaikan jika dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Sebanyak 75 unit rumah baru terjual pada triwulan II 2026 dari 30 pengembang, naik tipis dari 72 unit pada triwulan I.

Namun jika dibandingkan dengan triwulan II 2025, angkanya masih turun 50,66%. Penurunan itu memang tidak sedalam triwulan sebelumnya yang mencapai 55,56%.

Perbaikan terutama terlihat pada rumah tipe kecil dan tipe besar. Penjualan tipe kecil turun 53,57% yoy, membaik dari penurunan 66,97% pada triwulan sebelumnya.

Penjualan tipe besar juga membaik, meski masih turun 38,46% yoy dari sebelumnya 40,63%.

Sebaliknya, rumah tipe menengah justru mengalami penurunan lebih dalam. Penjualannya turun 52,38% yoy, dibanding triwulan sebelumnya yang hanya turun 19,05%.

Kalau dilihat dari pergerakan per triwulan, penjualan rumah tipe kecil naik 8,3% dan tipe menengah meningkat 17,6%. Sementara tipe besar masih turun 15,8%, tetapi penurunannya lebih kecil dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 29,6%.

Rumah tipe kecil menjadi yang paling banyak diburu. Porsinya mencapai 52% dari total penjualan rumah baru, disusul tipe menengah 27% dan tipe besar 21%.

Angka tersebut menunjukkan konsumen Balikpapan masih cenderung mencari rumah dengan harga yang lebih terjangkau.

Di sisi lain, harga rumah tipe menengah justru tumbuh lebih tinggi. Pada triwulan II 2026, harganya naik 0,46% yoy, dibanding 0,38% pada triwulan sebelumnya.

Harga rumah tipe besar naik 2,02% yoy, tetapi melambat dari 2,93%. Sedangkan tipe kecil naik 1,71% yoy, sedikit lebih rendah dibanding 1,85% pada triwulan sebelumnya.

Kenaikan harga rumah tersebut dipengaruhi biaya pembangunan. Pengembang menghadapi kenaikan harga bahan bangunan dan biaya tenaga kerja yang kemudian ikut diperhitungkan dalam harga jual rumah.

Untuk pembiayaan, KPR masih menjadi andalan pembeli rumah baru di Balikpapan. Sebanyak 72% rumah yang terjual dibeli menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Pembelian dengan pembayaran tunai bertahap mencapai 24%, sedangkan transaksi tunai hanya 4%.

Penyaluran KPR di Balikpapan pada triwulan II 2026 mencapai Rp5,01 triliun. Nilainya tumbuh 2,27% yoy, meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar Rp5 triliun dengan pertumbuhan 1,87% yoy.

Kualitas kredit juga masih terjaga dengan tingkat NPL di bawah 5%.

Meski penjualan mulai membaik, pengembang masih menghadapi sejumlah persoalan. Kenaikan harga bahan bangunan, kondisi pinjaman calon pembeli, proses perizinan dan birokrasi hingga keterbatasan lahan rumah tapak menjadi beberapa tantangan.

Dari sisi konsumen, kebutuhan sehari-hari dan keinginan menyimpan dana untuk berjaga-jaga juga membuat kemampuan mengalokasikan uang untuk membeli rumah menjadi lebih terbatas.

Sementara itu, kondisi properti komersial di Balikpapan relatif berbeda. Bank Indonesia mencatat harga properti komersial pada triwulan II 2026 relatif stabil.

Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) tercatat 105,70 atau turun tipis 0,02% yoy. Angka tersebut lebih baik dibanding triwulan sebelumnya yang turun 0,10% yoy.

Segmen ritel bahkan tumbuh 0,03% yoy. Sementara harga properti hotel turun 1,61% yoy, tidak sedalam triwulan sebelumnya yang mencapai 3,63%.

Aktivitas ekonomi di Balikpapan ikut menopang sektor properti komersial. Mulai beroperasinya sejumlah industri hilirisasi CPO, pembangunan di wilayah IKN, proyek hilirisasi industri, serta penyelesaian revamp Kilang Pertamina Balikpapan menjadi sejumlah faktor yang disebut Bank Indonesia ikut memengaruhi aktivitas ekonomi dan konsumsi.

Permintaan hotel juga terbantu aktivitas MICE dan kegiatan kedinasan. Sebaliknya, sektor perkantoran masih menghadapi permintaan yang terbatas.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan prospek sektor properti masih positif seiring berlanjutnya proyek hilirisasi industri yang memasuki tahap persiapan operasional.

“Ke depan, masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi oleh para pengembang yang dapat memengaruhi konsumen dalam memutuskan pembelian rumah baru,” demikian keterangan Robi Ariadi.

Tantangan tersebut meliputi kenaikan harga bahan bangunan, kualitas pinjaman calon konsumen, kendala perizinan dan birokrasi, keterbatasan lahan, serta terbatasnya alokasi dana masyarakat untuk membeli rumah.

Bank Indonesia juga terus mendorong penyaluran kredit ke sektor perumahan melalui kebijakan makroprudensial, termasuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).