Balikpapan Deflasi, Tapi Risiko Harga Pangan Mengintai di Tengah El Nino

EKOBIS48 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Tekanan harga di Kota Balikpapan mulai mereda pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik mencatat Balikpapan mengalami deflasi 0,03 persen secara bulanan (mtm).

Namun, penurunan indeks harga tersebut tidak berarti seluruh kebutuhan masyarakat mengalami penurunan harga. Sejumlah komoditas pangan justru masih mengalami kenaikan, terutama ikan layang, cabai rawit, kacang panjang, jagung manis dan ketimun.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan Robi Ariadi dalam keterangan perkembangan inflasi Agustus 2026 menyebut deflasi Balikpapan terutama ditopang kelompok transportasi yang memberikan andil sebesar 0,26 persen (mtm).

Salah satu pendorongnya adalah turunnya tarif angkutan udara. Penurunan tersebut terjadi setelah harga avtur Pertamina yang berlaku sejak 1 Agustus 2026 turun menjadi Rp21.825 per liter dari sebelumnya Rp22.104 per liter untuk Bandara Sepinggan Balikpapan.

Harga bensin juga ikut turun. Pertamax (RON 92) pada Agustus 2026 tercatat Rp16.300 per liter, turun dari Rp16.650 per liter pada bulan sebelumnya.

Selain transportasi, harga sejumlah bahan pangan seperti bawang merah, kangkung dan tomat juga mengalami penurunan seiring meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi.

Bawang merah dan tomat mendapat tambahan pasokan dari wilayah Jawa dan Sulawesi yang mulai memasuki periode panen. Sementara pasokan kangkung dari petani lokal Balikpapan meningkat seiring kondisi cuaca yang lebih mendukung pertumbuhan tanaman.

Di sisi lain, tekanan harga pangan masih terasa.

Ikan layang menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga. Kondisi tersebut dipengaruhi terbatasnya hasil tangkapan nelayan di perairan Balikpapan dan sekitarnya menjelang berakhirnya periode ikan pelagis kecil pada triwulan III 2026. Gelombang laut yang tinggi juga membuat jumlah nelayan yang melaut terbatas.

Harga cabai rawit, jagung manis dan ketimun turut meningkat akibat menurunnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi. Kondisi cuaca kemarau memengaruhi produksi, sementara permintaan masih relatif kuat.

Kacang panjang juga mengalami kenaikan harga karena pasokan dari petani lokal sekitar Balikpapan terbatas akibat kondisi cuaca yang kering.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan pada Agustus tercatat 3,79 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,19 persen. Namun angka tersebut masih berada di bawah inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 3,83 persen.

Sementara itu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) bergerak berlawanan. Jika Balikpapan mengalami deflasi, PPU justru mencatat inflasi 0,52 persen (mtm) pada Agustus 2026.

Inflasi PPU terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 0,41 persen.

Daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, biaya pemeliharaan atau servis, serta buncis menjadi komoditas utama yang mendorong kenaikan harga di PPU.

Harga daging ayam ras meningkat karena terbatasnya pasokan ayam beku dari Jawa dan ayam segar dari PPU dan sekitarnya. Kenaikan biaya pakan ternak juga turut memengaruhi harga di tengah permintaan yang masih kuat.

Sementara harga ikan tongkol terdorong oleh berkurangnya hasil tangkapan nelayan akibat gelombang laut yang tinggi di perairan PPU dan sekitarnya.

Berbeda dengan Balikpapan, sejumlah komoditas di PPU justru mengalami penurunan harga, antara lain tomat, bawang merah, ikan layang, kelapa dan bawang putih.

Secara tahunan, inflasi PPU mencapai 3,68 persen (yoy), sedangkan inflasi tahun kalender Januari-Agustus 2026 tercatat 3,53 persen. Balikpapan mencatat inflasi tahun kalender sebesar 2,47 persen.

BI Balikpapan menilai pengendalian inflasi tetap membutuhkan perhatian karena sejumlah risiko masih membayangi hingga akhir tahun.

Musim kemarau yang diprakirakan mencapai puncak pada triwulan III 2026 berpotensi menekan produksi pertanian. Risiko tersebut semakin perlu diantisipasi dengan adanya prakiraan dampak El Niño yang lebih kuat di sejumlah wilayah sentra produksi pangan, khususnya Jawa.

Kondisi tersebut penting bagi Balikpapan, PPU dan Paser karena sebagian kebutuhan pangan strategis masih bergantung pada pasokan dari daerah sentra produksi di luar Kalimantan.

Di sisi lain, akselerasi operasional SPPG sepanjang 2026 juga diperkirakan dapat meningkatkan permintaan sejumlah komoditas pangan.

Untuk menjaga pasokan dan harga, TPID Balikpapan dan PPU terus melakukan intervensi melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), pasar murah dan operasi pasar.

Hingga Agustus 2026, TPID Balikpapan telah melaksanakan 87 kali GPM, termasuk tujuh kegiatan sepanjang Agustus. Operasi Pasar LPG 3 kilogram serta optimalisasi Kios GESIT dan Kios Penyeimbang juga terus dilakukan.

Di PPU, TPID telah melaksanakan 27 kali GPM, pasar murah dan operasi pasar, termasuk empat kegiatan selama Agustus.

Dari sisi pasokan, kerja sama antardaerah juga diperkuat. Balikpapan dan PPU menjalin kerja sama dengan Kabupaten Karo serta Balikpapan dengan Kabupaten Bulukumba untuk mendiversifikasi sekaligus mengamankan pasokan komoditas strategis, terutama hortikultura.

BI Balikpapan bersama pemerintah daerah melalui TPID Balikpapan, PPU dan Paser akan terus memperkuat pengendalian inflasi untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Kebijakan tersebut diarahkan agar inflasi daerah tetap berada dalam sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.