Usai Empat Hari Bertarung, Rescuer IMERC 2026 Ditantang Buktikan Kompetensi di Dunia Nyata

METROPOLIS32 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Piala menjadi penanda siapa yang terbaik dalam sebuah kompetisi. Namun bagi dunia tanggap darurat, kemenangan tidak berhenti ketika nama juara diumumkan. Kemampuan yang diuji di arena justru harus dibawa kembali ke tempat kerja, ketika seorang rescuer berhadapan dengan keadaan darurat yang sebenarnya.

Pesan itu mengemuka dalam penutupan Indonesia Mining Emergency Response Community (IMERC) 2026 di Ballroom Hotel Platinum Balikpapan, Minggu (9/8/2026).

Selama empat hari, 24 tim dari berbagai perusahaan menghadapi delapan kategori tantangan yang menguji kemampuan teknis, pengambilan keputusan, koordinasi hingga ketahanan fisik. Namun, rangkaian tersebut dirancang bukan sekadar untuk menentukan siapa yang berdiri di podium tertinggi.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Dr. Ing. Tri Winarno, mengatakan IMERC menjadi ruang pembelajaran bersama untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia tanggap darurat.

“Untuk menjadi ajang menentukan siapa yang terbaik, tetapi juga menjadi proses pembelajaran bersama dalam mengasah kemampuan teknis, memperkuat koordinasi, menguji pengambilan keputusan, serta membangun kepercayaan antara anggota tim,” ujar Tri.

Menurut dia, kemampuan yang diperoleh selama kompetisi harus dibawa kembali ke perusahaan dan organisasi masing-masing. Pengalaman tersebut diharapkan memperkuat sistem keselamatan dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.

“Pada akhirnya keberhasilan sebuah tim tanggap darurat tidak hanya diukur dari capaian pada arena kompetisi, tetapi dari kesiapan dan kemampuan dalam menyelamatkan nyawa ketika keadaan darurat betul-betul terjadi,” katanya.

Tri juga mengapresiasi 24 tim yang mengikuti IMERC 2026. Menurutnya, seluruh peserta menunjukkan kemampuan dan sportivitas selama menjalani rangkaian tantangan.

“Bagi kami, kalian semua adalah pemenang sejati yang menunjukkan kemampuan dan sportivitas yang luar biasa,” ujar Tri.

Bagi peserta yang berhasil meraih penghargaan, Tri meminta capaian tersebut menjadi pemacu untuk terus mengembangkan kompetensi. Sementara bagi tim yang belum mendapatkan hasil sesuai harapan, pengalaman selama kompetisi harus menjadi bekal untuk kembali belajar dan berlatih.

“Bagi teman-teman peserta yang belum memperoleh hasil sesuai harapan, jadikan kompetisi ini sebagai pengalaman berharga untuk terus belajar, berlatih, dan menjadi lebih baik,” katanya.

Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo juga menempatkan kompetensi sebagai ukuran utama keberhasilan seorang rescuer.

Menurut dia, tujuan terbesar IMERC bukan sekadar menentukan tim yang keluar sebagai juara, tetapi membentuk rescuer Indonesia yang semakin siap menghadapi kondisi darurat di lapangan.

“Kemenangan terbesar dari kegiatan ini bukan semata-mata siapa yang akan menjadi juara, tetapi bagaimana kita mampu membentuk rescuer Indonesia yang semakin kompeten, tangguh, profesional dan siap melaksanakan tugas di lapangan,” ujar Yudhi.

Ia menilai penguatan kapasitas penyelamatan merupakan investasi penting bagi bangsa. Pemerintah, industri, komunitas, dunia usaha dan masyarakat, menurutnya, perlu bergerak dalam satu ekosistem untuk membangun kesiapsiagaan tersebut.

Basarnas, kata Yudhi, mendukung keberlanjutan IMERC sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi para rescuer dan memperkuat jejaring tanggap darurat.

“Kita akan membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah kompetisi, di mana penyelamatan dan kesiapsiagaan yang harus kita siapkan menjadi aset yang berharga bagi bangsa dan negara kita,” katanya.

Yudhi juga mengingatkan para peserta agar tidak berhenti belajar setelah meninggalkan arena IMERC.

“Mari kita bawa semangat IMERC ini kembali ke tempat tugas kita masing-masing dan jadikan pengalaman ini sebagai semangat untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan berkolaborasi,” ujarnya.

Pesan tersebut sejalan dengan Ketua Dewan Pembina Yayasan Garuda Rescue Nusantara, Dr. Joko Tri Raharjo. Menurut dia, pengalaman selama IMERC harus menjadi pengetahuan yang benar-benar diterapkan untuk memperkuat sistem tanggap darurat di perusahaan.

“Jadikan apa yang diperoleh selama IMERC bukan hanya sebagai pencapaian, tetapi sebagai pengetahuan dan pengalaman yang dibawa kembali ke perusahaan untuk memperkuat sistem tanggap darurat dan menyelamatkan lebih banyak kehidupan,” kata Joko.

Ia menilai penutupan IMERC 2026 bukan akhir dari proses yang dibangun selama kompetisi. Justru setelah seluruh tantangan selesai, tanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan emergency response menjadi lebih besar.

“Closing ceremony pada malam hari ini bukanlah akhir dari IMERC. Ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” ujarnya.

Joko mengatakan Garuda Rescue Nusantara akan terus mengembangkan IMERC sebagai platform kolaborasi, pembelajaran dan peningkatan kompetensi emergency response.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem tanggap darurat yang andal, profesional, adaptif dan berkelanjutan, sekaligus memperluas kontribusi hingga jejaring emergency response internasional.

Bagi Joko, kompetensi seorang rescuer pada akhirnya tidak dapat diukur hanya dari jumlah piala yang dikumpulkan.

“Jadikan piala bukan hanya simbol kemenangan, tetapi jadikanlah kompetensi sebagai tanggung jawab,” katanya.

Rangkaian IMERC 2026 telah mempertemukan para rescuer dengan berbagai skenario yang menuntut kemampuan berbeda, mulai dari penyelamatan kecelakaan lalu lintas, ruang terbatas, ketinggian, kebakaran struktural, penyelamatan bawah air hingga tantangan kemampuan individu.

Semua itu menjadi simulasi sebelum kemampuan tersebut dibutuhkan dalam kondisi nyata.

Karena ketika kecelakaan benar-benar terjadi, tidak ada podium, tidak ada kesempatan mengulang dan tidak ada piala yang menjadi ukuran.

Yang tersisa adalah kemampuan seorang rescuer untuk mengambil keputusan dengan tepat dan membawa korban keluar dari situasi berbahaya.

“Nilai sejati dari seorang rescuer terletak pada kompetensi yang dimiliki, integritas yang dijaga, dan kehidupan yang mampu diselamatkan,” kata Yudhi.