Metroikn, Balikpapan – Kompetisi penyelamatan darurat tidak selalu tentang siapa yang menjadi juara. Bagi Indonesia Mining Emergency Response Community (IMERC) 2026, arena perlombaan justru menjadi ruang belajar untuk membangun standar rescue Indonesia agar semakin mendekati praktik internasional.
Memasuki hari kedua pelaksanaan di Training Ground Garuda Rescue Nusantara (GRN), Balikpapan, Jumat (7/8/2026), tim Emergency Response Team (ERT) dari berbagai perusahaan mengikuti sejumlah tantangan penyelamatan, mulai dari Theory Test, Road Crash Rescue, Vertical Rescue, Confined Space Rescue, Structural Fire Fighting, hingga Underwater Rescue & Recovery.
Namun di balik setiap simulasi tersebut, terdapat misi yang lebih besar, yakni menciptakan budaya pembelajaran dan standar kompetensi bagi para rescuer di Indonesia.
Ketua Steering Committee (SC) IMERC 2026 sekaligus Direktur GRN, dr. David Marty Winowatan, mengatakan ide penyelenggaraan IMERC muncul dari kebutuhan Indonesia memiliki standar kompetisi dan pengembangan kemampuan rescue yang lebih terstruktur.
Menurutnya, Indonesia banyak memiliki personel penyelamat dengan pengalaman lapangan yang kuat, tetapi belum memiliki sistem standar bersama seperti yang telah diterapkan sejumlah negara.
“Kita belajar dari Australia. Mereka sudah memiliki kompetisi rescue dengan standar yang diakui internasional. Indonesia belum memiliki standar seperti itu,” ujar David.

Salah satu referensi utama IMERC adalah Mining Emergency Response Competition (MERC) Australia, kompetisi rescue yang telah berjalan lebih dari 15 tahun dan menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan kemampuan tim penyelamat pertambangan.
Dari konsep tersebut, GRN kemudian mengadaptasi format kompetisi dengan pendekatan komunitas. Karena itu, nama IMERC tidak hanya membawa identitas Indonesia, tetapi juga menekankan kolaborasi antarrescuer.
“Kenapa kita pakai community? Karena tujuan kita bukan hanya kompetisi. Ini menjadi ruang untuk berbagi kemampuan, menyamakan persepsi, dan membangun standar bersama,” kata David.
Berbeda dengan kompetisi pada umumnya yang menempatkan peserta lain sebagai pesaing yang tidak boleh mengetahui strategi lawan, IMERC menggunakan konsep challenge yang memungkinkan peserta belajar dari proses penyelamatan tim lain.
“Kalau kompetisi biasanya ada yang boleh melihat dan tidak boleh melihat. Di sini kita menggunakan konsep challenge. Semua bisa belajar, semua bisa melihat prosesnya,” ujarnya.
Selain hasil akhir, setiap tim juga mendapatkan evaluasi melalui score sheet yang mencatat kemampuan teknis masing-masing.
David menyebut evaluasi tersebut menjadi bahan penting bagi perusahaan untuk mengetahui aspek yang perlu diperbaiki.
“Mereka bisa melihat sendiri. Oh ternyata kami kurang di penyelamatan ketinggian, ternyata kami perlu memperbaiki kemampuan di air, atau ternyata ada alat yang belum kami miliki,” katanya.
Menurut David, nilai utama dari IMERC bukan hanya penghargaan yang dibawa pulang, tetapi peningkatan kapasitas manusia yang terlibat dalam dunia penyelamatan.
“Ini bukan tangible asset yang bisa dihitung dengan uang. Ini intangible asset. Ilmu, pengalaman, dan kemampuan yang dibawa pulang jauh lebih besar nilainya,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan IMERC 2026, sejumlah adjudicator dari Australia juga dilibatkan untuk memberikan penilaian sekaligus berbagi pengalaman kepada peserta.
David mengatakan keterlibatan para juri internasional tersebut bukan sekadar memberikan penilaian, tetapi menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan antarnegara.
“Mereka datang secara sukarela. Mereka melihat ini sebagai tanggung jawab untuk berbagi ilmu kepada rescuer lain,” katanya.
Menurut dia, salah satu budaya rescue Australia yang ingin ditularkan adalah bagaimana kesalahan dalam latihan tidak dianggap sebagai kegagalan, melainkan bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik.
“Mereka tidak datang untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Kalau ada kesalahan, mereka memberikan masukan agar peserta bisa belajar,” ujar David.
Ke depan, GRN berharap Indonesia dapat memiliki standar rescue yang lebih jelas, mulai dari kompetensi personel, kualifikasi rescuer, hingga penggunaan peralatan dalam operasi penyelamatan.
“Harapannya cepat atau lambat Indonesia memiliki standar rescue sendiri. Kalau belum ada patokan nasional, kita belajar dari standar terbaik yang sudah ada di dunia,” pungkasnya.









