Apical Tunjukkan Sawit Bisa Jadi Energi dan Produk Sehari-hari, dari Minyak hingga Avtur

METROPOLIS26 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Momentum Ramadan dimanfaatkan Apical untuk mengajak publik melihat industri kelapa sawit dari perspektif yang lebih luas. Tidak hanya sebagai komoditas, sawit dinilai memiliki peran besar dalam kehidupan sehari hari hingga sektor energi masa depan.

Hal itu disampaikan Head of Corporate Communications Apical, Prama Yudha Amdan, dalam pertemuan bersama insan pers yang digelar dalam suasana buka puasa bersama di Balikpapan. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 11 Maret 2026 tersebut menjadi ruang diskusi antara perusahaan dan media mengenai perkembangan industri sawit serta kontribusinya bagi masyarakat.

Menurut Yudha, Ramadan menjadi momentum refleksi tentang pentingnya integritas dan kebermanfaatan dalam setiap langkah, termasuk dalam pengelolaan industri.

“Ramadan mengajarkan kita tentang kebermanfaatan dan integritas, melakukan hal yang benar bahkan ketika tidak ada yang melihat,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengajak publik melihat kelapa sawit dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari hari. Menurutnya, sawit merupakan tanaman yang memiliki tingkat pemanfaatan sangat tinggi karena hampir seluruh bagiannya dapat digunakan.

“Kalau bicara kebermanfaatan, rasanya tidak mungkin tidak bicara sawit. Sawit itu tanaman yang hampir tidak menyisakan limbah. Dari minyaknya, ampasnya, sampai daun dan akarnya bisa dimanfaatkan,” katanya.

Banyak orang, kata dia, tidak menyadari bahwa berbagai produk yang digunakan setiap hari berasal dari turunan kelapa sawit. Mulai dari makanan hingga kebutuhan rumah tangga.

“Pagi tadi mungkin kita mencuci baju dengan deterjen, mandi memakai sabun dan sampo. Banyak dari produk itu menggunakan oleokimia berbasis sawit,” jelasnya.

Selain produk rumah tangga, turunan sawit juga banyak digunakan dalam industri pangan seperti margarin, cokelat, hingga berbagai produk olahan lainnya. Bahkan sebagian besar cokelat modern saat ini menggunakan lemak nabati berbasis sawit sebagai pengganti lemak hewani.

Seiring perkembangan inovasi, pemanfaatan sawit juga terus berkembang ke sektor yang lebih luas. Produk turunannya kini digunakan dalam functional fats untuk industri pangan hingga energi terbarukan seperti Sustainable Aviation Fuel yang digunakan sebagai bahan bakar pesawat.

“Kalau disederhanakan, manfaat sawit itu hadir dari dapur rumah tangga hingga bahan bakar pesawat atau avtur,” ujar Yudha.

Namun ia mengingatkan bahwa perjalanan industri sawit tidak terbentuk secara instan. Dibutuhkan waktu panjang sebelum tanaman ini dapat menghasilkan dan memberikan manfaat secara maksimal.

“Sawit tidak seperti tanaman yang ditanam hari ini lalu besok bisa dipanen. Butuh lima sampai enam tahun untuk mulai menghasilkan dan puluhan tahun untuk memberikan manfaat secara maksimal,” katanya.

Karena itu, menurutnya, kebermanfaatan industri sawit hanya bisa terwujud melalui konsistensi, inovasi, dan komitmen jangka panjang dalam pengelolaannya.

Upaya menghadirkan manfaat tersebut juga terlihat dari berbagai inisiatif operasional di lapangan. Manager General Affairs PT Kutai Refinery Nusantara, unit bisnis Apical di Balikpapan, Randy Suwenli, menjelaskan salah satu langkah yang dilakukan perusahaan melalui pemanfaatan FABA atau Fly Ash dan Bottom Ash.

Material hasil pembakaran batu bara dari pembangkit listrik tenaga uap milik perusahaan yang beroperasi sejak 2021 itu kini dimanfaatkan kembali menjadi produk konstruksi seperti batako dan paving block.

“FABA memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali. Kami mengolahnya menjadi batako dan paving block yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” jelas Randy.

Program ini juga melibatkan masyarakat sekitar dalam proses pengolahan sehingga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi warga.

Selain itu, Apical juga menjalankan program pemberdayaan desa melalui Sustainable Village Program di Kutai Timur. Program ini mendampingi kelompok tani yang memiliki kebun sawit agar mampu mengelola lahannya secara lebih optimal.

Salah satu hasilnya terlihat pada kelompok tani Hutan Wana Makmur yang pada Februari 2026 menerima SK HGU setelah melalui proses pendampingan.

Bagi Yudha, kisah tersebut menunjukkan bahwa industri sawit tidak hanya berkaitan dengan perusahaan besar, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk berkembang bersama.

“Industri sawit sering dilihat hanya dari sisi perusahaan besar. Padahal banyak petani yang juga tumbuh bersama industri ini,” katanya.

Ia menambahkan, kebermanfaatan sawit tidak hanya diukur dari produk yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana industri ini dikelola secara bertanggung jawab untuk masyarakat dan lingkungan.

“Kebermanfaatan itu tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh dari konsistensi dan komitmen untuk terus menghadirkan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.