Metroikn, Samarinda – Harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Segiri Samarinda mulai bergerak pasca-Iduladha 2026. Kenaikan paling terasa terjadi pada komoditas minyak goreng dan bawang, sementara harga telur ayam justru menunjukkan tren penurunan.
Pedagang sembako di Pasar Segiri, April, mengatakan kenaikan harga minyak goreng sudah berlangsung bertahap dalam sekitar dua bulan terakhir. Meski demikian, distribusi barang sejauh ini masih berjalan normal.
Beberapa produk mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Minyak goreng merek Rose Brand yang sebelumnya dijual sekitar Rp20 ribu per liter kini mencapai Rp25 ribu per liter. Sementara Minyak Kita naik dari kisaran Rp18 ribu menjadi Rp23 ribu per liter.
Meski harga naik, aktivitas pembelian belum mengalami penurunan yang berarti. Konsumen disebut masih berbelanja seperti biasa, meski cenderung memilih produk dengan harga lebih terjangkau.
“Kalau pembeli masih normal. Biasanya mereka memilih yang lebih murah, dan Minyak Kita masih banyak dicari,” ujar April.
Tak hanya minyak goreng, harga bawang juga mulai merangkak naik dalam beberapa hari terakhir. Pedagang bawang di Pasar Segiri, Adi, menyebut perubahan harga dipengaruhi kondisi pasokan dari daerah penghasil.
Harga bawang merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp55 ribu per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp70 ribu per kilogram. Sementara bawang putih eceran bergerak dari Rp30 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.
Menurut Adi, faktor cuaca menjadi salah satu penyebab utama perubahan harga di tingkat pemasok.
“Curah hujan cukup berpengaruh terhadap produksi. Harga dari pemasok juga ikut berubah sehingga berdampak ke pasar,” katanya.
Di tengah kenaikan harga minyak dan bawang, kabar berbeda datang dari komoditas telur ayam. Harga telur justru mengalami penurunan dalam sepekan terakhir.
Pedagang telur di Pasar Segiri, Alvin, mengatakan harga telur saat ini berada di kisaran Rp48 ribu hingga Rp53 ribu per piring. Angka tersebut lebih rendah dibanding sebelumnya yang sempat menyentuh Rp55 ribu per piring.
Penurunan harga didukung oleh pasokan yang masih lancar, terutama distribusi telur dari Sulawesi yang belum mengalami kendala.
Meski harga lebih rendah, pola belanja masyarakat disebut belum mengalami perubahan signifikan dan masih berada dalam kondisi normal.
Pergerakan harga ini menunjukkan pasar masih berada dalam fase penyesuaian pasca-Iduladha. Pasokan, distribusi, dan kondisi produksi dari daerah pemasok masih menjadi faktor utama yang memengaruhi harga kebutuhan pokok di Samarinda.









