Indonesia Coba Teknologi Dry Ice Atasi Asap Karhutla, Efektivitasnya Masih Dievaluasi

NASIONAL31 Dilihat

Metroikn, Jakarta – Pemerintah menguji cara baru untuk mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Indonesia dengan menyebarkan dry ice atau es kering dari pesawat. Metode yang diterapkan di Sumatera Selatan ini menjadi sorotan media asing di tengah meluasnya dampak asap hingga negara-negara tetangga.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan uji coba operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan 1,6 ton dry ice pada Kamis (15/10/2026). Pada pelaksanaan awal, jarak pandang di sekitar wilayah penyemaian dilaporkan meningkat dari sekitar 650 meter menjadi 2.800 meter.

Mengutip laporan ANTARA pada Kamis (15/10/2026), Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan, metode tersebut dirancang untuk mengurangi konsentrasi asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer.

Sumatera Selatan menjadi lokasi pertama uji coba karena wilayah tersebut turut terdampak kabut asap pekat akibat kebakaran di lahan mineral dan gambut. Penyemaian dilakukan menggunakan pesawat Cessna Caravan yang diterbangkan dari Bandar Udara Raden Inten II, Lampung.

Pada hari pertama, pesawat menjalankan dua sorti penerbangan dengan membawa masing-masing 800 kilogram dry ice. Penyemaian dilakukan pada ketinggian sekitar 4.500 kaki, dengan fokus di sekitar kawasan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

BNPB menyatakan hasil awal menunjukkan peningkatan jarak pandang. Meski demikian, hasil tersebut masih merupakan laporan awal uji coba, sehingga efektivitas metode ini perlu dievaluasi lebih lanjut.

Bukan untuk Memicu Hujan

Dry ice merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat. Dalam metode yang diuji BNPB, material ini digunakan untuk memengaruhi kondisi atmosfer, bukan untuk memicu hujan seperti penyemaian awan menggunakan bahan natrium klorida atau garam.

Berton menjelaskan, metode penyemaian dry ice dilakukan untuk membantu mengurangi konsentrasi asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer akibat inversi suhu.

“Pada kondisi normal, suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian. Namun, saat terjadi inversi suhu, pola tersebut berbalik sehingga atmosfer menjadi relatif stabil dan menghambat pergerakan asap ke lapisan yang lebih tinggi,” kata Berton, dikutip dari Okezone, Jumat (16/10/2026).

Ia mengatakan, penyemaian dry ice ditujukan untuk membuat atmosfer lebih tidak stabil sehingga asap yang terperangkap dapat bergerak naik dan menyebar. Metode ini berbeda dari penyemaian garam yang umumnya digunakan untuk memicu hujan.

“Metode ini juga tidak bergantung pada ketersediaan awan hujan karena sasarannya adalah kondisi atmosfer yang memengaruhi pergerakan dan penyebaran asap,” ujar Berton.

Sementara itu, BNPB menyebut uji coba dijadwalkan berlangsung hingga 18 Oktober 2026. “Rangkaian uji coba OMC menggunakan dry ice ini dijadwalkan berlangsung hingga 18 Oktober 2026,” kata Berton, dikutip dari ANTARA.

Menjadi Sorotan Media Asing

Penggunaan dry ice turut menarik perhatian sejumlah media internasional. The Guardian, Channel NewsAsia (CNA), dan The Independent memberitakan langkah Indonesia tersebut sebagai upaya baru untuk menghadapi kabut asap yang telah mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Asia Tenggara.

The Guardian pada Kamis (15/10/2026) menyoroti bahwa pemerintah Indonesia telah mencoba sejumlah langkah lain, termasuk penyemaian awan, pemadaman melalui udara atau water bombing, serta pengerahan personel ke lokasi kebakaran.

Dalam laporannya, media Inggris itu juga mengutip pandangan Rick McRae, akademisi dari kelompok riset kebakaran hutan University of New South Wales, Australia. Ia menilai metode dry ice berpotensi memberikan kelegaan lokal untuk sementara waktu, tetapi bukan solusi permanen.

Penilaian tersebut menjadi catatan penting karena asap dapat kembali masuk ke wilayah yang sama mengikuti pergerakan angin. Mengurangi konsentrasi asap di suatu lokasi juga tidak berarti sumber kebakaran telah padam.

CNA turut menjelaskan bahwa teknik ini berupaya mengganggu lapisan inversi suhu yang dapat menahan asap dekat permukaan. Namun, uji coba tersebut merupakan pendekatan eksperimental yang efektivitasnya masih perlu diamati.

Penanganan Karhutla Tetap Jadi Tantangan

Kabut asap akibat karhutla tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan aktivitas masyarakat. Sejumlah wilayah di Indonesia mengalami kondisi udara buruk, sementara asap juga dilaporkan mencapai Malaysia, Singapura, dan negara tetangga lainnya.

Lahan gambut menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan kebakaran karena api dapat membara di bawah permukaan dan kembali muncul meskipun api di permukaan telah dipadamkan.

Karena itu, penggunaan dry ice perlu dipahami sebagai salah satu upaya mengurangi dampak asap, bukan pengganti pemadaman langsung, pencegahan kebakaran, maupun penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.

Keberhasilan metode ini pada akhirnya perlu dinilai dari hasil evaluasi, termasuk perubahan konsentrasi asap, kondisi atmosfer, jarak pandang, dan keberlanjutan dampaknya setelah penyemaian dilakukan.