IKN Gandeng Korea Selatan Kembangkan Teknologi Kota Cerdas, SCCC Disiapkan Jadi Laboratorium

IKN19 Dilihat

Metroikn, Nusantara – Pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai kota cerdas tidak hanya bertumpu pada pembangunan gedung dan infrastruktur digital. Otorita IKN bersama Korea Selatan mulai membahas penerapan teknologi, pertukaran pengetahuan, hingga pengujian konsep kota cerdas melalui Smart City Cooperation Center (SCCC).

Pembahasan tersebut berlangsung dalam Nusantara Smart City Forum (NSCF) 2026 di Kantor Bersama 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, Selasa (3/11/2026).

Forum edisi kedua ini mengangkat tema GREEN dengan dua agenda utama, yakni pembangunan hijau berbasis pengetahuan lokal dan penerapan teknologi kota cerdas di Nusantara. Kegiatan diikuti lebih dari 150 peserta secara luring dan daring dari unsur pemerintah, akademisi, peneliti, serta praktisi teknologi.

Kerja sama ini melibatkan sejumlah lembaga dan institusi Korea Selatan, di antaranya Ministry of Land, Infrastructure and Transport (MOLIT), University of Seoul, CJ OliveNetworks, serta Korea Institute of Civil Engineering and Building Technology (KICT).

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengatakan dukungan Pemerintah Korea Selatan melalui pembangunan SCCC perlu dimanfaatkan untuk menerapkan hasil penelitian secara langsung. Ia juga mendorong perguruan tinggi dan mahasiswa di Kalimantan Timur terlibat dalam pengembangan teknologi di Nusantara.

“Kalau apa yang Bapak tulis di sini bisa diimplementasikan, itu jauh lebih baik daripada hanya tinggal di paper. Jadi, saya mohon betul, ajak mahasiswanya agar tidak hanya gedung-gedung fisik di IKN ini yang berdiri, tetapi juga ilmu pengetahuan, khususnya dengan smart city technology,” ujar Basuki.

Project Manager SCCC dari CJ OliveNetworks, Kido Oh, menjelaskan kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan pusat kolaborasi, tetapi juga pertukaran teknologi dan pengetahuan antara Indonesia dan Korea Selatan.

“Proyek ini bukan hanya tentang membangun Smart City Cooperation Center, tetapi juga tentang kerja sama teknologi dan berbagi pengetahuan antara kedua negara. Saya berharap pertukaran teknologi dan pengetahuan di antara para ahli akan terus berjalan, bahkan setelah proyek ini berakhir,” ujar Kido.

Forum tersebut turut melibatkan sejumlah perguruan tinggi di Kalimantan Timur, yakni Politeknik Negeri Samarinda, Institut Teknologi Kalimantan, Universitas Mulawarman, dan Universitas Balikpapan.

Para akademisi berbagi pengetahuan mengenai energi terbarukan, pembangunan kawasan berkelanjutan, pertanian perkotaan, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengembangan kota.

Dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Ir. Rahmat Aris Pratomo, Ph.D., menyoroti pentingnya keterhubungan IKN dengan daerah di sekitarnya. Melalui pendekatan Regional Circular and Ecological Sphere (R-CES), ia menjelaskan pembangunan kota perlu memperhatikan hubungan pengelolaan sumber daya dengan kawasan lain, termasuk Balikpapan, Samarinda, Penajam Paser Utara, dan Kutai Kartanegara.

“Kota, apakah kita menyebutnya hijau, pintar, atau bahkan kota hutan, tidak bisa berdiri sendiri. Seberapa hijau sebuah kota bergantung pada hubungannya dengan kawasan di sekelilingnya,” ujar Rahmat.

Selain pertukaran pengetahuan, forum ini membahas pemanfaatan SCCC sebagai living lab atau laboratorium pengujian penerapan teknologi. Pembahasannya mencakup pengoperasian gedung cerdas dan gedung hijau, termasuk penyusunan indikator kinerja atau Key Performance Indicators (KPI).

Melalui forum tersebut, Otorita IKN dan Korea Selatan diharapkan dapat mendorong penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan Nusantara. Keterlibatan perguruan tinggi dan akademisi daerah juga diharapkan memperluas pemanfaatan hasil penelitian dalam pembangunan kota.