Green Business Jadi Tren Investasi Baru, UMKM Diminta Siap Beradaptasi

EKOBIS97 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Konsep UMKM hijau atau green business dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang di masa depan, seiring meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Namun di balik potensinya, pelaku usaha masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari biaya produksi yang lebih tinggi hingga belum adanya standar yang seragam.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Ngobrol UMKM 2026 bertema Penguatan UMKM Hijau sebagai Pilar Investasi Masa Depan yang digelar di Auditorium Balai Kota Balikpapan, Sabtu (6/6/2026).

Dalam diskusi tersebut, pelaku UMKM Endah membagikan pengalamannya saat mencoba menerapkan konsep usaha ramah lingkungan dengan menggunakan kemasan berbahan jagung yang dapat terurai secara alami.

Menurutnya, penggunaan material ramah lingkungan memang memberikan nilai tambah bagi produk. Namun di sisi lain, biaya produksi yang lebih tinggi membuat harga jual menjadi kurang kompetitif dibanding produk konvensional.

“Saya pernah menggunakan gelas berbahan jagung yang bisa didaur ulang. Namun biaya produksinya lebih tinggi sehingga harga jual ke konsumen juga ikut naik. Ini yang menjadi tantangan ketika berbicara soal ekonomi hijau,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital RI, Tiar Nabilla Karbala, menjelaskan bahwa konsep UMKM hijau saat ini masih berkembang dan belum memiliki satu standar baku yang berlaku untuk seluruh pelaku usaha.

Menurutnya, penerapan prinsip keberlanjutan harus disesuaikan dengan karakter pasar yang dituju. Konsumen lokal dan pasar internasional memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap produk ramah lingkungan.

“Kalau berbicara produk hijau, yang perlu dilihat adalah siapa audiensnya. Investor luar negeri tentu memiliki standar berbeda dengan pasar lokal. Jadi pendekatannya juga harus berbeda,” kata Tiar.

Ia menambahkan, sejumlah negara kini menerapkan standar keberlanjutan yang semakin ketat terhadap produk yang masuk ke pasar mereka, termasuk terkait rantai pasok, penggunaan bahan baku, hingga proses produksi yang ramah lingkungan.

Meski demikian, Tiar menilai kondisi tersebut justru membuka peluang baru bagi UMKM Indonesia untuk meningkatkan daya saing. Pelaku usaha didorong membangun narasi keberlanjutan yang kuat sebagai nilai tambah produk sekaligus strategi memasuki pasar yang lebih luas.

“Ke depan, aspek keberlanjutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga bisa menjadi keunggulan bisnis dan peluang investasi,” ujarnya.