Women Support Women, Srikandi PLN Dorong Perempuan Balikpapan Lebih Mandiri secara Ekonomi

METROPOLIS77 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Perempuan penyandang disabilitas dan ibu tunggal di Balikpapan mendapat pelatihan menjahit untuk membuka peluang usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi. Program ini tidak hanya menyediakan pelatihan, tetapi juga sarana produksi dan pendampingan awal agar keterampilan peserta dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual.

Program bertajuk Women Support Women tersebut diinisiasi Srikandi PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (UIP KLT) pada 8–15 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung di Aula Kelurahan Telaga Sari, Balikpapan, melalui kolaborasi dengan Rumah Zakat Balikpapan dan DPC Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Balikpapan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan peresmian program dan penyerahan bantuan sarana produksi menjahit. Peserta kemudian mengikuti enam sesi pelatihan dasar yang disertai praktik langsung.

Ketua Srikandi PLN UIP KLT, Yulina, mengatakan program tersebut dirancang untuk membuka kesempatan bagi perempuan mengembangkan keterampilan sekaligus mencari peluang penghasilan.

“Melalui program ini, kami ingin menghadirkan kesempatan bagi perempuan penyandang disabilitas dan ibu tunggal untuk mengembangkan keterampilan yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha. Kami berharap pelatihan, sarana produksi, dan pendampingan yang diberikan menjadi langkah awal bagi peserta untuk menghasilkan produk bernilai jual, membangun kepercayaan diri, serta meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga,” ujar Yulina.

Selain keterampilan menjahit, peserta diperkenalkan pada pengembangan produk, pemasaran, dan pencatatan transaksi. Pembekalan tersebut diharapkan membantu peserta memahami langkah awal menjalankan usaha, termasuk memantau hasil penjualan.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Balikpapan, Adamin Siregar, mengapresiasi program tersebut karena membuka ruang bagi perempuan, termasuk penyandang disabilitas dan ibu tunggal, untuk meningkatkan keterampilan dan mengembangkan peluang ekonomi.

“Kami menyambut baik program Women Support Women karena memberikan keterampilan yang dapat menjadi modal bagi peserta untuk mengembangkan kemandirian ekonomi. Dukungan seperti ini penting untuk membuka kesempatan kerja dan usaha yang lebih inklusif bagi perempuan, termasuk penyandang disabilitas dan ibu tunggal,” ujar Adamin.

Ia berharap pendampingan dapat dilanjutkan setelah pelatihan berakhir, terutama dalam pengembangan produk dan perluasan akses pemasaran.

“Kami berharap program ini dapat berkelanjutan, tidak hanya pada tahap pelatihan, tetapi juga dilanjutkan dengan pendampingan, pengembangan produk, serta membuka akses pemasaran. Dengan kolaborasi yang konsisten, keterampilan yang sudah diperoleh peserta dapat berkembang menjadi kegiatan usaha yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” tambahnya.

Ketua DPC HWDI Balikpapan, Lily Handayani, S.S., juga berharap keterampilan dan sarana produksi yang diberikan dapat dimanfaatkan peserta untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.

“Kami mengapresiasi dukungan PLN dan seluruh pihak yang telah memberikan kesempatan kepada perempuan penyandang disabilitas untuk belajar dan mengembangkan keterampilan menjahit. Kami berharap keterampilan dan sarana produksi yang diberikan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual, sehingga para peserta semakin percaya diri, mandiri, dan memiliki kesempatan untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga,” ungkap Lily.

Pelaksanaan program turut melibatkan perangkat daerah terkait dan Lurah Telaga Sari. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas dukungan bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan menjadi kegiatan usaha setelah pelatihan.

Program Women Support Women juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 5 tentang Kesetaraan Gender dan Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Melalui program ini, PLN UIP KLT mendorong pemberdayaan perempuan yang tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut pada pemanfaatan keterampilan, pengembangan produk, dan akses pasar. Keberlanjutan pendampingan akan menjadi salah satu faktor penting agar pelatihan tersebut dapat berkembang menjadi peluang usaha dan sumber penghasilan bagi peserta.