Kuliner Balikpapan Makin Ramai, 37,8% Merchant Sudah Punya Lebih dari Satu Outlet

METROPOLIS38 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Bisnis kuliner di Balikpapan mulai memasuki fase baru. Transaksi meningkat, sejumlah pelaku usaha membuka cabang, tetapi pertumbuhan penjualan tidak otomatis bergerak secepat jumlah transaksi.

Data internal ESB mencatat transaksi pada outlet yang sama di Balikpapan tumbuh 16,5% secara tahunan sepanjang periode Januari-Juli 2026. Namun, pada periode yang sama, pertumbuhan omzet hanya tercatat 3%.

Angka tersebut muncul ketika bisnis makanan dan minuman di Kalimantan Timur sedang tumbuh. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di Kaltim tumbuh 13,79% pada triwulan II 2026. Pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan sektor yang sama secara nasional sebesar 10,60%.

Di Balikpapan, geliat ekspansi mulai terlihat dari jumlah pelaku usaha yang mengembangkan bisnisnya ke lebih dari satu outlet.

ESB mencatat terdapat 100 merchant dengan 185 outlet aktif yang menggunakan sistem ESB di Balikpapan sepanjang Januari-Juli 2026. Sebanyak 37,8% merchant di antaranya sudah memiliki lebih dari satu outlet.

Sejumlah merchant existing juga kembali membuka outlet baru dalam 12 bulan terakhir.

Co-Founder dan CEO ESB Gunawan mengatakan pertumbuhan transaksi yang tidak sejalan dengan pertumbuhan omzet perlu dilihat lebih jauh oleh pemilik usaha.

“Ketika bisnis masih satu outlet, semua bisa dipantau langsung oleh pemiliknya sendiri. Begitu outlet kedua dan ketiga mulai beroperasi, cara kerja seperti itu tidak lagi memadai. Data Balikpapan menunjukkan hal ini dengan jelas, transaksinya tumbuh 16,5%, tetapi omzetnya hanya naik 3%. Itu adalah sinyal yang perlu dibaca secara serius, bukan sekadar dirayakan,” ujar Gunawan.

Menurut dia, persoalan bisnis kuliner berubah ketika jumlah outlet bertambah. Pemilik usaha tidak lagi cukup hanya mengawasi transaksi, tetapi juga harus memastikan stok bahan baku, harga pokok penjualan atau HPP, pembelian, pembayaran hingga laporan operasional antarcabang tetap terkendali.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan yang digelar ESB di Zurich Hotel Balikpapan, Kamis (24/9/2026).

Forum itu mempertemukan pelaku usaha F&B untuk membahas persoalan yang muncul ketika bisnis mulai berkembang dari satu outlet menjadi beberapa cabang.

F&B Educator & Management Consultant Agung Haryadi mengatakan persoalan operasional sering kali baru terasa setelah bisnis membuka cabang kedua atau ketiga.

“Banyak pemilik restoran baru menyadari operasionalnya mulai keteteran setelah outlet kedua atau ketiga berjalan, padahal ekspansi seharusnya direncanakan sejak sebelum outlet pertama mencapai keuntungan,” ujar Agung.

Ia menyebut kesiapan tim, proses kerja yang bisa direplikasi, serta standar pelayanan dan operasional yang konsisten antarcabang perlu disiapkan sebelum ekspansi dilakukan.

Pertumbuhan bisnis kuliner Kaltim sendiri terjadi di tengah meningkatnya aktivitas pariwisata, perhotelan, industri dan investasi di daerah. Kondisi tersebut ikut membuka ruang bagi bisnis makanan dan minuman, terutama di kota seperti Balikpapan yang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi di Kaltim.

Namun, semakin banyak cabang juga berarti semakin kompleks pengelolaan bisnis. Kesalahan kecil dalam stok, pembelian bahan baku atau pengendalian biaya dapat berulang di banyak outlet sekaligus.

ESB kemudian menawarkan sistem operasional terintegrasi yang menghubungkan kasir, inventori, ERP atau back-office, pemesanan pelanggan, operasional dapur hingga analisis data.

Gunawan mengatakan pelaku usaha mulai melihat bahwa pertumbuhan bisnis bukan hanya soal menambah penjualan atau membuka cabang.

“Kalimantan Timur sedang tumbuh, namun yang membuat saya optimistis justru bukan angka pertumbuhannya, melainkan cara pelaku usahanya menyikapi hal tersebut. Dari acara Kopdar Racik Bisnis F&B ini, terlihat jelas bahwa mereka sudah mulai mempertanyakan soal stok, biaya, dan performa tiap outlet, bukan sekadar berapa banyak yang terjual,” katanya.

Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan merupakan bagian dari rangkaian roadshow ESB di 10 kota sepanjang 2026. Kegiatan tersebut dikemas sebagai forum diskusi, mentoring dan pembahasan studi kasus bagi pemilik serta pengelola bisnis kuliner.

Berdasarkan data perusahaan, hingga 2026 ESB telah digunakan lebih dari 30.000 merchant aktif di Indonesia dengan nilai transaksi yang disebut telah melampaui Rp65 triliun.