Jenazah Mr X Ditemukan di Enggano Ternyata ABK Arupadhatu 1

METROPOLIS40 Dilihat

Metroikn, Serang – Misteri jenazah laki-laki tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, akhirnya terungkap. Hasil pemeriksaan DNA Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri memastikan jenazah tersebut merupakan salah satu Anak Buah Kapal (ABK) Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Korban berinisial SU ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Jenazah sebelumnya berstatus Mr X karena belum diketahui identitasnya.

Identifikasi dilakukan setelah Biddokkes Polda Banten berkoordinasi dengan Biddokkes Polda Bengkulu dan Tim DVI Pusdokkes Polri. Data jenazah kemudian dicocokkan dengan data antemortem yang diperoleh dari keluarga korban Arupadhatu 1.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan proses identifikasi dilakukan menggunakan sejumlah data primer, mulai dari sidik jari, data gigi, hingga DNA.

“Setelah menerima informasi adanya penemuan jenazah di wilayah Pulau Enggano, kami berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk dilakukan proses identifikasi dan pencocokan dengan data antemortem dari keluarga korban kapal Arupadhatu 1,” ujar Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

Hasil pemeriksaan DNA kemudian memastikan jenazah tersebut merupakan SU, salah satu ABK Arupadhatu 1.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA oleh Operasi DVI Pusdokkes Polri, jenazah Mr X tersebut secara genetis teridentifikasi sebagai SU yang merupakan ABK kapal Arupadhatu 1 dan salah satu korban hilang kontak saat kapal tersebut melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau,” jelas Hengki.

Kapal Hilang Saat Liputan Gunung Anak Krakatau

Arupadhatu 1 sebelumnya bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Banten, Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

Kapal tersebut membawa lima jurnalis dan tiga kru menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi.

Kontak dengan kapal kemudian hilang. Informasi tersebut diterima Kapolsek Carita Iptu Supandi pada Selasa (8/9/2026) pukul 13.55 WIB dari seorang jurnalis Antara Banten.

Pencarian langsung dilakukan dengan melibatkan unsur gabungan dan membagi wilayah operasi ke sejumlah sektor.

Hingga hari ke-10 pencarian, sebanyak 24 kapal dikerahkan untuk menyisir 11 sektor. Dalam operasi tersebut, tim menemukan sejumlah benda yang diduga berkaitan dengan aktivitas pencarian, antara lain life jacket, pelampung botol, helm plastik, jeriken, terpal, dan galon air.

Namun, operasi pencarian resmi kemudian dihentikan setelah melalui tahapan evaluasi.

Kabasarnas Banten Al Amrad mengatakan operasi awal berlangsung selama tujuh hari dan kemudian diperpanjang tiga hari berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.

“Secara aturan, pencarian kami terlaksana selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, kami lakukan perpanjangan selama tiga hari. Pada pelaksanaan tujuh hari tersebut kami mendapatkan informasi adanya penemuan jenazah pada tanggal 12, kemudian sampai tanggal 14 kami lakukan evaluasi dan kami perpanjang tiga hari,” ujar Al Amrad.

Selama tiga hari perpanjangan tersebut, tim tidak menemukan tanda-tanda korban lainnya.

“Dari tiga hari pelaksanaan perpanjangan yang kami laksanakan, tidak ada tanda-tanda korban yang kami temukan selain objek-objek yang sudah kami sampaikan pada saat di lapangan. Karena itu, kami melakukan tindak lanjut evakuasi dan penghentian operasi pencarian,” jelasnya.

Pencarian Dilanjutkan Lewat Koordinasi

Meski operasi SAR resmi dihentikan, Basarnas tetap menindaklanjuti informasi yang berpotensi berkaitan dengan korban Arupadhatu 1.

Al Amrad mengatakan Basarnas berkoordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung, termasuk dengan nelayan dan masyarakat pesisir di wilayah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan area pencarian.

“Hingga saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir, termasuk dengan para nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut,” kata Al Amrad.

Tim di Bengkulu juga masih melakukan penyisiran berdasarkan informasi yang diterima, termasuk di sekitar Pulau Enggano.

“Untuk wilayah Bengkulu sampai saat ini teman-teman dari tim gabungan masih melakukan penyisiran dengan informasi-informasi yang kami terima. Tindakan yang saat ini kami lakukan adalah koordinasi, termasuk edukasi kepada instansi terkait, nelayan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir, termasuk di sekitar Pulau Enggano,” ujarnya.

Al Amrad menjelaskan, jenazah yang ditemukan di Enggano tidak langsung dinyatakan sebagai korban Arupadhatu 1 karena harus melalui proses identifikasi ilmiah dan pencocokan dengan data keluarga.

“Kenapa tidak disampaikan dari awal? Karena seperti yang tadi disampaikan Kapolda, kita harus menunggu hasil identifikasi lebih lanjut dengan data keluarga. Setelah proses identifikasi dan pencocokan dilakukan, hasilnya dapat kita sampaikan bersama,” ungkapnya.

Dengan teridentifikasinya SU, temuan jenazah di Enggano kini secara resmi dikaitkan dengan kecelakaan Arupadhatu 1 berdasarkan hasil pemeriksaan DVI. Koordinasi dengan wilayah pesisir Banten, Lampung, dan Bengkulu tetap dilakukan untuk menindaklanjuti setiap informasi terkait korban maupun benda yang diduga berasal dari kapal tersebut.