Australia Melihat Perubahan Rescuer Indonesia Setelah Dua Tahun IMERC

METROPOLIS56 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Dua tahun kolaborasi Indonesia dan Australia dalam Indonesia Mining Emergency Response Community (IMERC) mulai memperlihatkan hasil. Tim Indonesia dinilai semakin matang dalam menangani korban, sementara rescuer Australia justru menemukan pengalaman yang tidak mereka dapatkan di negaranya.

Perkembangan itu terlihat pada hari ketiga IMERC 2026 di fasilitas pelatihan Garuda Rescue Nusantara (GRN), Balikpapan, Sabtu (8/8/2026).

Sebanyak 24 Emergency Response Team (ERT) dari Indonesia dan Australia kembali diuji dalam berbagai skenario keadaan darurat. Tantangan tidak hanya menuntut kecepatan, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan, berkomunikasi, bekerja sebagai tim, dan memastikan korban ditangani dengan benar.

Founder Mining Emergency Response Competition (MERC) Australia, Sue Steele, melihat perkembangan cukup besar sejak kolaborasi tersebut dimulai.

Menurut Sue, pelaksanaan tahun kedua terasa jauh lebih matang dibanding tahun pertama, baik dari sisi kekompakan tim maupun dukungan terhadap penyelenggaraan.

“Banyak perbaikan tahun ini dibanding tahun pertama. Tim jauh lebih kohesif, bekerja sebagai satu pasukan jauh lebih baik, dan dukungan sponsor juga semakin besar. IMERC mulai mendapatkan banyak momentum,” ujar Sue.

Bagi Sue, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa komunitas emergency response di Indonesia mulai tumbuh dengan semangat yang sama seperti yang mereka bangun di Australia.

Ia mengatakan para rescuer Australia juga antusias datang ke Balikpapan karena kondisi yang mereka hadapi berbeda dengan lingkungan di Australia.

“Mereka senang berada di sini. Bagi tim Australia, ini lingkungan yang berbeda. Suhunya berbeda dan tantangannya juga berbeda. Itu membuat mereka diuji dengan cara yang tidak mereka dapatkan di Australia,” katanya.

Sebaliknya, Sue melihat tim Indonesia memiliki antusiasme besar terhadap dunia emergency response. Perbedaan tersebut justru menjadi titik temu dalam kolaborasi kedua negara.

“Kami menyukai semangat tim Indonesia terhadap emergency response. Itu alasan kami memulai kerja sama ini. Jadi semuanya benar-benar saling melengkapi,” ujarnya.

Bukan Hanya Indonesia yang Belajar

Salah satu bukti pertukaran pengetahuan itu datang dari Northern Star Resources (NTR), tim Australia yang mengikuti tiga kategori pada hari ketiga, yakni Confined Space Rescue, Vertical Rescue, dan Under Water Rescue & Recovery.

Kapten Tim NTR, Alice, mengaku mendapatkan pengalaman baru dari kemampuan penyelamatan bawah air yang dimiliki tim Indonesia.

“Di Australia kami tidak mendapatkan pelatihan mengenai Under Water Rescue, jadi kami belajar banyak dengan berlatih dan melihat tim Indonesia melakukan penyelamatan itu,” ujar Alice.

Menurut Alice, perbedaan teknik antara tim Indonesia dan Australia bukan persoalan selama prinsip keselamatan tetap menjadi dasar pengambilan keputusan.

“Selalu ada banyak cara untuk melakukan sesuatu. Itu sebabnya kapten sangat penting. Dia membuat rencana, memastikan aman, memastikan berhasil, lalu tim menjalankannya,” katanya.

Ia juga mengapresiasi fasilitas GRN yang menurutnya mampu menggabungkan berbagai jenis latihan rescue dalam satu kawasan.

“Ini fasilitas yang luar biasa. Ada api, confined space, air, bahkan gym. Di Australia kami tidak memiliki satu fasilitas besar yang mengajarkan semuanya seperti ini,” ujar Alice.

Pertukaran pengalaman selama dua tahun juga mulai terlihat dalam cara tim Indonesia menangani korban.

Founder IMERC, Jen Pearce, mengatakan ada perubahan positif dibanding penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Pada IMERC 2025, menurut Jen, masih banyak tim yang terlalu terburu-buru menyelesaikan tantangan. Tahun ini, perhatian terhadap korban mulai lebih dominan.

“Di event MERC Australia, penanganan korban adalah yang dinilai utama. Kecepatan atau waktu mempunyai poin kecil,” kata Jen.

“Jika tahun lalu kami masih banyak melihat tim yang ikut serta sangat terburu-buru menangani korban, tahun ini kami melihat banyak tim yang sudah memprioritaskan korban dibanding waktu penanganan. Itu sesuatu yang sangat bagus,” lanjutnya.

Perubahan itu menjadi salah satu hasil yang ingin dicapai dari kolaborasi Indonesia-Australia.

Menurut Jen, tujuan utama kerja sama tersebut bukan sekadar mempertemukan tim dalam sebuah kompetisi, tetapi membangun komunitas rescuer yang lebih besar.

“Tujuan utama kolaborasi ini adalah membangun semangat yang sama antar-ERT kedua negara, saling berbagi pengetahuan, dan membangun komunitas rescuer yang lebih besar sehingga tercipta lebih banyak rescuer yang andal,” ujarnya.

Lebih Banyak Tim Australia Berpeluang Datang

Kolaborasi yang memasuki tahun kedua itu juga mulai menarik perhatian tim Australia lainnya.

Sue mengatakan sudah ada beberapa perusahaan yang menyatakan ketertarikan untuk mengikuti IMERC pada tahun depan.

“Tahun ini kami sudah mendapatkan banyak ketertarikan dari perusahaan lain. Waktunya belum tepat bagi mereka untuk bergabung, tetapi saya pikir ke depan akan lebih banyak tim Australia yang datang,” katanya.

Bahkan, menurut Sue, tiga atau empat tim Australia sudah memasukkan rencana tersebut ke dalam anggaran perusahaan untuk tahun depan.

Ia berharap pertukaran itu terus berkembang menjadi hubungan internasional yang tidak berhenti pada kompetisi, tetapi berlanjut dalam latihan dan berbagi pengetahuan.

“Kami ingin membangun hubungan internasional untuk berbagi pengetahuan dan latihan,” ujarnya.

Dua tahun perjalanan IMERC akhirnya memperlihatkan satu hal: rescue bukan arena untuk mencari siapa yang paling hebat, melainkan ruang untuk membuat lebih banyak orang mampu menyelamatkan orang lain dengan cara yang lebih aman.

Indonesia belajar dari Australia. Australia pun menemukan hal yang bisa dipelajari dari Indonesia.

Dan dari Balikpapan, pertukaran itu mulai membentuk komunitas rescue yang melampaui batas negara.