Tongkol Jagung Tak Lagi Terbuang, Peternak DMPA Kutim Sulap Jadi Pakan Fermentasi

EKOBIS26 Dilihat

Metroikn, Kutai Timur – Tongkol jagung yang selama ini hanya dianggap limbah pascapanen kini menjadi sumber manfaat baru bagi peternak di Desa Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur. Melalui Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) TAP Untuk Negeri, limbah pertanian tersebut diolah menjadi silase atau pakan fermentasi untuk ternak kambing.

Inovasi sederhana ini membantu peternak menjaga ketersediaan pakan sepanjang tahun sekaligus memberikan nilai tambah pada hasil pertanian yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal.

Di tengah tantangan ketersediaan hijauan pakan, terutama saat musim kemarau, silase menjadi alternatif yang dinilai efektif karena dapat disimpan lebih lama dibandingkan pakan segar.

Program tersebut dijalankan oleh PT Etam Bersama Lestari (EBL), anak usaha PT Triputra Agro Persada Tbk, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan peternakan berkelanjutan berbasis potensi lokal.

Tongkol jagung pascapanen dipilih sebagai salah satu bahan utama karena mudah diperoleh di sekitar desa dan selama ini belum memiliki nilai ekonomi yang signifikan.

Bagi para peternak, keberadaan silase menjadi solusi yang sangat membantu ketika pasokan pakan mulai berkurang.

Basirun, salah satu peternak peserta Program DMPA, mengaku merasakan langsung manfaat inovasi tersebut dalam mengembangkan usaha ternaknya.

“Awalnya kami memiliki empat bibit kambing yang dikembangkan melalui program ini. Seiring waktu jumlah kambing berkembang menjadi 15 ekor. Dalam perjalanan ada beberapa tantangan, seperti tiga ekor anakan yang mati karena sakit dan dua ekor berhasil dijual. Saat ini kami masih memiliki 10 ekor kambing yang terus dipelihara,” ujarnya.

Menurut Basirun, silase membantu peternak mengatasi persoalan pakan yang kerap muncul pada waktu-waktu tertentu.

“Dengan adanya silase ini, kami merasa terbantu. Apalagi saat ada kesulitan mendapat pakan ternak yang bagus,” katanya.

Pemanfaatan silase juga dinilai relevan dengan upaya memperkuat ketahanan pakan ternak nasional. Pasalnya, sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang sehingga berpotensi memengaruhi ketersediaan hijauan pakan.

Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, sebelumnya menegaskan pentingnya langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan pakan ternak di berbagai daerah.

“Pemerintah berkomitmen memastikan kebutuhan pakan ternak tetap terpenuhi, terutama bagi peternak yang berada di daerah terdampak bencana,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Urusan Umum Desa Tepian Terap, Kahirullah, mengapresiasi keberadaan Program DMPA yang tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga pendampingan dan pengetahuan kepada masyarakat.

“Program seperti ini sangat membantu masyarakat karena memberikan pengetahuan, pendampingan, serta membuka peluang bagi warga untuk mengembangkan usaha yang dapat memberikan manfaat jangka panjang. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat,” katanya.

Melalui pengembangan silase berbahan tongkol jagung, Program DMPA TAP Untuk Negeri menunjukkan bahwa potensi lokal dapat diolah menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Dari limbah yang sebelumnya terbuang, kini lahir sumber pakan ternak yang membantu menjaga produktivitas peternakan sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi desa.