Pemkot Samarinda Soroti Kenaikan Harga Plastik yang Mulai Bebani UMKM

METROPOLIS66 Dilihat

Metroikn, Samarinda – Lonjakan harga plastik di pasaran mulai dirasakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pedagang kecil di Samarinda. Kenaikan harga tersebut dinilai menambah biaya operasional usaha, terutama bagi pelaku usaha yang masih bergantung pada kemasan plastik untuk layanan bungkus dan take away.

Kenaikan harga plastik diduga dipicu gejolak harga minyak dunia akibat konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Kondisi itu berdampak pada bahan baku plastik jenis PE dan PP yang merupakan turunan minyak bumi.

Di lapangan, harga plastik kresek dilaporkan naik dari sekitar Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak. Sementara beberapa jenis plastik lain mengalami kenaikan dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per pak.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan pemerintah masih melakukan pendalaman terkait penyebab kenaikan harga tersebut.

“Ini masih kita investigasi kenapa. Tapi plastik itu bukan kebutuhan mendesak, dia kebutuhan yang mengikuti. Kalau belanja tanpa plastik juga sebenarnya bisa,” ujarnya.

Menurutnya, dampak kenaikan harga plastik saat ini memang belum terlalu dirasakan langsung oleh masyarakat luas seperti kenaikan bahan pangan. Namun kondisi tersebut mulai menjadi beban tambahan bagi pedagang dan pelaku usaha kecil.

“Katanya bisa sampai tiga kali lipat kenaikannya, ini yang sedang kita cari kenapa dan mengapa. Nanti setelah kita temukan, baru kita ambil langkah,” katanya.

Marnabas menjelaskan plastik jenis PE (polyethylene) umumnya digunakan untuk kantong kresek karena sifatnya lentur dan tahan air. Sementara plastik PP (polypropylene) lebih banyak dipakai untuk wadah makanan karena lebih kuat dan tahan panas.

Pemerintah Kota Samarinda juga mulai mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai sekaligus membuka peluang penggunaan bahan kemasan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan efisien.

“Plastik itu sebenarnya bisa didaur ulang. Jadi kita lihat juga alternatifnya,” tuturnya.

Ia turut mengimbau pelaku usaha mulai mempertimbangkan kemasan alternatif agar tidak terlalu bergantung pada plastik.

“Kalau saran saya, pakai alternatif. Nasi bungkus tidak harus selalu pakai boks, masih banyak pilihan lain,” pungkasnya.